Add to favourites
News Local and Global in your language
14th of December 2018

Indonesia



Apa satu kata yang membuktikan bahwa Anda manusia?

Seiring komputer tumbuh semakin cerdas, ada beberapa cara sederhana yang bisa kita gunakan untuk membedakan manusia dari mesin.

Bayangkan bila Anda dan satu robot cerdas menghadap seorang hakim yang tidak bisa melihat kalian. Sang hakim akan menebak siapa di antara kalian yang manusia, dan karena itu akan membiarkannya hidup, sementara yang lainnya akan mati. Baik Anda maupun si robot sama-sama ingin hidup.

Sang hakim adil dan cerdas. Ia pun berkata: "Masing-masing dari kalian harus memberiku satu kata dari kamus. Berdasarkan kata ini, aku akan menebak siapa yang manusia."

Kata apa yang akan Anda pilih?

Akankah kata yang menggambarkan konsep spiritual agung seperti "jiwa"? Suatu kata yang menggambarkan selera Anda, misalnya "musik"? Ataukah fungsi dasar tubuh, seperti "kentut"?

Eksperimen pikiran sederhana ini mungkin kedengaran terlalu mengada-ada, tapi beberapa pakar kognitif percaya bahwa ia dapat membantu menjelaskan asumsi mendasar kita tentang kecerdasan buatan (AI) serta mengungkap beberapa hal menarik tentang pikiran kita sendiri.

Bagaimanapun, 'chat bot' otomatis dan mesin yang bisa bicara semakin menggunakan kecerdasan buatan untuk bercakap-cakap dengan kita atau menulis teks-teks yang kita baca setiap hari.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa perwakilan layanan pelanggan yang sedang bercakap-cakap dengan kita, misalnya, adalah orang betulan dan bukan algoritma? Atau jika cerita fiktif dibuat oleh mesin alih-alih ditulis dengan penuh cinta oleh penulis manusia? Communicative AI tak lagi merupakan prospek yang murni teoritis dan kita perlu bersiap untuk menghadapinya.

John McCoy, salah satu peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT), mengatakan ia awalnya terinspirasi oleh percakapan santai dengan rekan-rekannya. Mereka sedang mendiskusikan Tes Turing, yang bertujuan mengukur apakah perilaku cerdas mesin tidak bisa dibedakan dengan perilaku manusia. Tes tersebut pertama kali dikembangkan oleh ilmuwan Inggris Alan Turing pada tahun 1950.

Dalam formulasi yang paling umum, setiap hakim disodorkan antarmuka chat standar. Dalam setiap percobaan, mereka bisa saja berbicara dengan manusia nyata, atau chatbot yang didukung oleh kecerdasan buatan - dan kemudian mereka diminta menebaknya. Jika chatbot berhasil menipu sejumlah tertentu hakim, program tersebut dinyatakan lulus Uji Turing.

"Kami bertanya-tanya apakah versi minimal dari Tes Turing yang bisa terpikirkan oleh seseorang," jelas McCoy, sebelum berspekulasi apakah itu bahkan bisa dirangkum dalam satu kata.

"Lalu pertanyaannya adalah, apa kata-kata yang akan benar-benar dikatakan manusia betulan?" Pertanyaan inilah yang akhirnya mengilhami sebuah makalah penelitian, yang diterbitkan tahun ini dalamJournal of Experimental Social Psychology.

Dalam percobaan pertama, McCoy dan koleganya, Tomer Ullman, meminta lebih dari 1.000 partisipan untuk menjawab pertanyaan di atas dan kemudian menganalisis kata-kata yang mereka berikan untuk menemukan pola umum.

Sepuluh kata teratas, diurutkan berdasarkan popularitasnya, ialah:

Cinta (134 jawaban) Kasih (33) Manusia (30) Tolong (25) Ampun (18) Empati (17) Emosi (14) Robot (13) Kemanusiaan (11) Hidup (9)

"Mengejutkan betapa banyak kesamaan antara orang-orang," kata McCoy, yang sekarang bekerja di Universitas Pennsylvania. "Mereka bisa memilih kata manapun yang mereka suka dari kamus bahasa Inggris, tapi tetap ada banyak kesamaan di antara individu."

Misalnya kata "cinta" - sekitar 10% partisipan memilih kata ini daripada ratusan kata-kata lain; secara umum, seperempat dari partisipan memilih salah satu dari empat kata teratas.

Dalam hal tema umum, mereka mendapati bahwa kata-kata yang berkaitan dengan fungsi tubuh (misalnya "tahi"), iman dan pengampunan (misalnya "pengampunan" atau "harapan"), emosi (misalnya "empathy"), dan makanan (misalnya "pisang") adalah kategori paling populer.

McCoy dan Ullman kemudian melakukan eksperimen kedua untuk melihat bagaimana orang lain merespon kata-kata yang dihasilkan pada eksperimen pertama. Apakah kata-kata paling populer bisa dengan sukses menyampaikan rasa manusiawi seperti diduga para partisipan di eksperimen pertama? Dan jika demikian, kata mana yang paling sukses?

Untuk mencari tahu, para peneliti memasangkan kata-kata paling populer dalam berbagai kombinasi (misalnya "manusia" dan "cinta") dan meminta kelompok peserta lain untuk menentukan kata yang mana, dari dua itu, yang kemungkinan besar dihasilkan oleh manusia dan oleh komputer.

Seperti yang kita temukan pada studi pertama, "cinta" ternyata salah satu kata yang paling sukses. Tapi dari pilihan yang tersedia, kata di peringkat tertinggi adalah "tahi".

Mungkin mengejutkan bahwa feses ternyata ternyata kata yang mewakili umat manusia, tapi hasil ini menunjukkan bahwa dengan sengaja mengabaikan tabu atau memprovokasi, daripada sekadar menjelaskan, sebuah emosi mungkin merupakan cara paling mudah untuk menyampaikan kemanusiaan kita. Kata lain, yang lebih berwarna, juga demikian.

Beberapa kata lain yang dipandang sebagai unik bagi manusia juga membangkitkan respon emosional yang kuat dan melampaui makna kamusnya. "Becek", misalnya, atau "tolong". Sementara kata-kata lainnya sekadar asyik untuk disebutkan. Coba saja sebut "onomatopoeia" beberapa kali.

Alasan untuk ini mungkin merupakan cerminan dari kondisi AI saat ini. Kendati bot sekarang mampu menulis kalimat deskriptif dasar dan bahkan cerpen, mereka masih kesulitan dengan humor dan sarkasme. Humor, bagaimanapun juga, membutuhkan pemahaman mendalam tentang konteks dan berbagai asosiasi budaya yang tertanam dalam setiap kata.

Di samping spekulasi ini, McCoy menduga bahwa eksperimen ini dapat menjadi perangkat yang berguna untuk memahami asumsi implisit seseorang tentang kelompok manusia lainnya. Apa satu kata yang akan Anda pilih untuk membuktikan bahwa Anda seorang perempuan, misalnya? Atau untuk membuktikan bahwa Anda orang Prancis, atau seorang sosialis?

Dalam setiap kasus di atas, kata yang dipilih harus mengungkapkan kualitas yang kita anggap mampu dikenali semua anggota kelompok dalam diri mereka, yang mungkin salah dipahami atau diabaikan oleh orang luar.

Sementara itu, McCoy mendapati bahwa Tes Turing Minimal dapat memicu perdebatan lebih lanjut tentang sifat AI.

"Sangat menyenangkan untuk mengajukan pertanyaan ini kepada para psikolog terkemuka, untuk melihat mereka berpikir sangat, sangat keras dan datang kembali beberapa jam kemudian untuk dengan penuh semangat mengubah jawaban mereka," kata McCoy.

"Pertanyaan yang sangat sederhana ini membuat Anda berpikir secara mendalam tentang manusia versus komputer dan bagaimana mereka berkomunikasi."

Kata favorit McCoy sendiri sangatlah sederhana. "Salah satu kata yang saya suka adalah 'err...' -- itu cerdas," kata McCoy.

Tapi secara umum, kita harus ingat bahwa seandainya suatu saat nanti kita perlu membuktikan bahwa kita adalah manusia di dunia yang dijalankan oleh mesin, bersikaplah kurang ajar, dan cobalah melucu.

Anda bisa juga membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Future.

Read More




Leave A Comment

More News

BBCIndonesia.com | Berita

Republika Online RSS Feed

NASIONAL

Waspada Online

ANTARA News - Nasional

Indonesia News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.