Add to favourites
News Local and Global in your language
19th of August 2018

Indonesia



Berbagai risiko kesehatan akibat pubertas dini

Anak-anak perempuan mencapai masa pubertas di usia yang semakin lama semakin muda - tetapi bagaimana respon masyarakat memiliki dampak yang menetap pada kesehatan mereka.

Saya ingat, ketika pertama kalinya seorang tak dikenal terpaku melihat kaki telanjang saya.

Saat itu musim panas, sebelum saya berusia 11 tahun. Saya berada di sebuah toko kecil dekat rumah kami.

Seorang laki-laki berdiri di belakang ibu dan saya di antrean kasir, melihat saya dari atas ke bawah. Dia tampak seumur dengan ayah saya, Tetapi bukan tatapan bersahabat yang keluar dari matanya.

Sebagai anak perempuan yang mengalami pertumbuhan dini dan tampak lebih tua dari usia sebenarnya, pikiran saya berusaha keras untuk menyamai perubahan cepat yang terjadi di tubuh saya.

Tatapan dari laki-laki yang lebih tua membuat saya berasa cemas dan tidak aman.

Setiap kali saya mendengar suara ciuman dari orang-orang yang tidak saya kenal ketika saya lewat, hati saya berdebar keras dan mulut saya menjadi kering.

Jika saya menutup mata, saya masih mendengar suara yang meneriakkan kata-kata kotor dari dalam kendaraan yang lewat; sekali lagi, saya adalah seorang anak berusia 10 tahun yang takut mengenakan celana pendek di depan umum.

Bertahan dari komentar-komentar yang tidak diinginkan dan tatapan-tatapan tajam tampak bukan apa-apa dibandingkan dengan jenis-jenis kekerasan seksual lainnya.

Namun, beberapa penelitian telah memperlihatkan bahwa hal-hal tersebut sangat menegangkan bagi seorang anak, menempatkan mereka pada risiko masalah psikologis yang dapat bertahan selama hidup mereka.

Gerakan seperti #MeToo telah menekan frekuensi pelecehan seksual di tempat kerja. Namun pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur tetap menjadi pembahasan yang tidak umum - meskipun ini merupakan salah satu hal mendesak yang semakin meningkat, karena tampaknya pubertas dini meningkat di kalangan anak-anak perempuan di seluruh dunia.

Sementara usia rata-rata terjadinya pubertas yang digambarkan dengan perkembangan payudara, untuk gadis-gadis Amerika Serikat di tahun 1970-an adalah sekitar 12 tahun, lalu menjadi 9 tahun pada tahun 2011.

Satu penelitian menemukan bahwa 18 persen anak-anak perempuan kulit putih, 43 persen hitam non-Hispanik dan 31 persen Hispanik mencapai masa puber pada hari ulang tahun kesembilan mereka. Para peneliti masih mempelajari penyebabnya.

Hal ini menempatkan anak-anak berusia enam sampai delapan tahun pada risiko yang lebih besar terhadap pelecehan seksual.

Anak-anak perempuan yang mencapai masa puber lebih awal sering dilecehkan secara seksual daripada teman-teman mereka lainnya, terlepas apakah mereka pernah melakukan kegiatan seksual sebelumnya - salah satu alasan para peneliti berpikir bahwa mereka memang sudah menjadi target.

Dan perhatian datang dari teman-teman sebaya, serta orang-orang dewasa lainnya. Baik anak laki-laki maupun perempuan yang berkembang lebih awal akan lebih dilecehkan secara seksual oleh teman sekelas mereka.

Di Inggris, salah satu investigasi yang baru dilakukan oleh BBC menemukan bahwa bahkan anak-anak berusia enam tahun pernah mendapatkan pelecehan seksual di kereta api atau stasiun kereta api.

Carrie Juergens, seorang penduduk Oregon berusia 26 tahun, masih ingat ketika dia mengunjungi taman rekreasi air dengan keluarganya ketika berusia 11 tahun.

Seorang laki-laki dewasa mengikutinya sampai di salah satu pemandian air panas dan merangkulnya dari belakang. Laki-laki itu bertanya dia bersekolah di mana dan berapa umurnya.

"Saya berlari ke bagian lain dari taman rekreasi air itu, dan dia mengikutiku, dan mencoba menggelitikiku," katanya.

"Saya tidak tahu bagaimana harus bersikap karena masyarakat melatih perempuan untuk bersikap baik."

Juergens berkata dia sempat berpikir: "Jika ini artinya menjadi perempuan, saya tidak ingin menjadi bagian dari itu."

Meskipun masa puber memberikan tantangan tersendiri bagi para remaja, anak-anak perempuan yang matang terlebih dahulu daripada teman-teman sebayanya biasanya lebih rentan.

Salah satu penelitian terbaru, yang meneliti lebih dari 7.000 orang perempuan selama masa 14 tahun, menemukan bahwa menarche (menstruasi pertama) dihubungkan dengan peningkatan tingkat depresi, penyalahgunaan zat terlarang, gangguan makan, dan perilaku anti sosial di masa dewasa.

"Efek dari pubertas dini dalam kesehatan psikologis telah direplikasi di banyak negara berbeda di seluruh dunia," kata Jane Mendle, salah satu penulis penelitian tersebut dan seorang profesor psikologi di Cornell University.

Salah satu alasannya mungkin karena anak-anak perempuan yang dewasa dini akan mengalami peningkatan dalam perhatian yang tidak diinginkan dan berbagai komentar tentang tubuh mereka dari anak laki-laki yang lebih tua dan laki-laki dewasa.

"Hal yang penting tentang pubertas adalah orang lain bisa melihat itu," terang Mendle.

Tetapi seorang gadis muda dengan payudara tetap masih anak-anak, dan mereka mengatasi situasi semacam itu dengan lebih baik, daripada mereka yang belum bertumbuh.

Tentu saja, di usia 10 tahun, bermain boneka Barbie dan menonton Disney Channel dengan adik laki-laki saya merupakan kegiatan favorit saya.

Secara emosional saya tidak siap menghadapi perhatian dari laki-laki.

Seksualitas anak-anak perempuan terutama bermasalah dalam budaya di mana pubertas dianggap secara otomatis merupakan pertanda seorang perempuan sudah siap menikah.

Saat ini badan amal untuk anak-anak Unicef memperkirakan bahwa satu dari tiga perempuan (sekitar 250 juta) dinikahkan sebelum berusia 15 tahun, di seluruh dunia.

Hal ini tidak terbatas pada negara-negara berkembang saja. Sebagian besar negara bagian di Amerika Serikat mengizinkan pernikahan anak di bawah umur dalam keadaan tertentu, termasuk anak-anak di bawah 13 tahun atau lebih muda.

Unchained at a Glance, sebuah lembaga nirlaba yang bertujuan untuk menolong perempuan dan anak-anak perempuan untuk menghindari kawin paksa, memperkirakan bahwa sebanyak 248.000 anak berusia 12 tahun menikah di Amerika Serikat antara tahun 2000-2010.

Dampak dari pernikahan dini adalah jangka panjang, seringkali memengaruhi kemampuan seorang anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan, dan menyebabkan dampak kesehatan yang parah.

Di banyak daerah pedesaan di Bangladesh, misalnya, anak-anak perempuan langsung dinikahkan begitu mereka mengalami menstruasi pertama.

Ketika anak-anak perempuan ini hamil, mereka menghadapi risiko kematian saat melahirkan sebesar 1 dalam 110 - lima kali lebih tinggi daripada ibu-ibu yang berusia 20 sampai 24 tahun - hal itu membuat kematian tersebut sebagai 'hal biasa yang tidak dapat diterima'.

Dan sementara penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui hubungan kesehatan mental dengan pernikahan anak-anak, satu penelitian dari Etiopia menemukan korelasi antara dinikahkan dini dan peningkatan risiko bunuh diri pada anak-anak di usia semuda 10 tahun.

Sebagian dari masalahnya adalah ketika seorang anak perempuan mulai menunjukkan tanda-tanda pubertas, bahkan jauh sebelum menstruasi pertamanya, beberapa keluarga merasa takut bahwa anak perempuan akan terlibat dalam hubungan seksual atau diserang.

Oleh karenanya, pernikahan dapat dilihat sebagai cara untuk 'melindunginya'.

"Ketakutan yang ada di tengah-tengah orang tua dan masyarakat ini menciptakan lingkungan di mana ketika anak perempuan itu menjadi lebih tua, dunia mereka semakin mengecil, dengan berbagai pembatasan yang semakin lama semakin banyak, ditempatkan pada mobilitas mereka," kata Nidal Karim, seorang pakar gender di suatu lembaga nirlaba Care yang memusatkan perhatian pada wilayah Nepal dan Bangladesh, dua negara di mana masalah-masalah ini sangat parah.

"Seksualitas anak-anak perempuan adalah perhatian orang lain," tambah Karim.

"Tetapi anak-anak perempuan itu sendiri jarang diberikan informasi tentang tubuh mereka sendiri, pubertas, seks dan reproduksi agar dapat bersiap-siap dan melindungi diri mereka sendiri."

Bahkan di negara-negara di mana pernikahan anak sangat jarang, pubertas dini dapat menjadi masalah.

Bagi Pauline Campos, seorang penulis lepas dari Minnesota, mendapat perhatian seksual yang tidak diinginkan sebagai anak-anak membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Di usia delapan tahun, kenangnya, dia menggunakan bra ukuran B dan mencoba menyembunyikannya di bawah kemeja longgar dan tunik yang kebesaran.

"Saya merasa sangat aneh karena otak saya di usia itu tidak cocok dengan tubuh saya," katanya.

Sekarang, sebagai orang dewasa, Campos mengaitkan pengalaman-pengalamannya itu dengan kondisi dysmorphia (merasa tubuh tak sempurna) yang dideritanya.

"Saya menyebut diri saya sebagai mantan penderita bulimia seumur hidup, karena meskipun saya belum kambuh dalam waktu yang lama, pola pikir itu - begitu itu muncul, tidak bisa begitu saja pergi," katanya.

"Selalu ada titik tertentu di mana saya semakin sehat untuk diri saya sendiri dan saya mulai merasa sadar tentang lekuk-lekuk yang saya lihat di cermin."

Faktanya, beberapa penelitian telah memperlihatkan bahwa mengalami pelecehan seksual di masa pubertas dini berkontribusi pada kesadaran tubuh yang diobjektifikasikan (OBC atau objectified body consciousness); sebuah istilah yang digunakan oleh para psikolog untuk menggambarkan kecenderungkan untuk melihat tubuh seseorang sebagai sebuah obyek untuk dilihat dan dinilai.

Suatu badan penelitian yang baru tumbuh mendukung betapa objetifikasi seksual dini dapat begitu merusak.

Salah satu penelitian di tahun 2016 menunjukkan bahwa pelecehan seksual dikaitkan dengan peningkatan gejala depresi dan citra tubuh yang negatif - jadi tidak mengherankan bahwa anak perempuan yang berusia antara 11 sampai 13 tahun dilaporkan mengalami tingkat objektifikasi diri, malu terhadap tubuh, murung dan depresi yang lebih tinggi daripada anak laki-laki.

Mereka juga lebih cenderung merasa malu, cemas dan memiliki pemikiran untuk bunuh diri.

Anak-anak perempuan yang mengalami perkembangan dini juga menghadapi sejumlah masalah lain seperti gangguan makan, kenakalan remaja dan prestasi akademis yang lebih rendah dibandingkan dengan rekan-rekan sebaya mereka.

Memasuki dunia dewasa yang semuanya dinilai secara seksual menyebabkan anak-anak perempuan merasa dinilai, dihakimi dan dipandang dengan cara yang baru, kata Celia Roberts, seorang sosiolog dan profesor penelitian gender dan sains di Lancaster University.

"Ini merupakan perubahan besar dari masa anak-anak, di mana Anda cenderung berasumsi - kecuali Anda telah diperlakukan salah - bahwa Anda berharga dan penting sebagai manusia," katanya.

Pelecehan seksual "membuat Anda merasa bahwa Anda adalah objek bagi orang lain untuk digunakan atau didominasi daripada untuk diri Anda sendiri".

Bahkan di dalam apa yang seharusnya menjadi 'zona aman' seperti sekolah, anak-anak perempuan sering menjadi target pelecehan seksual dan gosip.

Salah satu survei nasional di Amerika Serikat menemukan bahwa 56 persen remaja perempuan, dan 40 persen anak laki-laki, dilaporkan mengalami pelecehan seksual.

Dan hal itu terjadi sejak mereka masih anak-anak. Di kelas enam, ketika anak-anak biasanya berusia sekitar 11 - 12 tahun, lebih dari sepertiga pelajar perempuan pernah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak laki-laki.

Mendle mengatakan bahwa anak-anak lain merasa ingin tahu atau merasa aneh ketika mereka melihat perubahan pada tubuh anak-anak perempuan - tetapi mereka juga bisa berbuat jahat.

Hal ini bisa sangat sulit untuk dilewati selama pubertas dini, ketika anak-anak masih mencari tahu bagaimana mereka ingin mengekspresikan identitas mereka.

Dan bagi anak-anak perempuan yang mungkin tidak pernah memilih untuk memiliki kepribadian feminin, asumsi-asumsi tentang sifat 'keperempuanan' ini dapat sangat merusak.

Sementara itu, pelajar yang tidak mengonfirmasi status gendernya biasanya lebih berisiko mengalami pelecehan seksual yang lebih besar daripada rekan-rekan mereka; satu penelitian menemukan bahwa 81 persen dari remaja transgender dan 72 persen anak-anak perempuan yang lesbian pernah dilecehkan secara seksual, dibandingkan dengan 43 persen mereka yang menyatakan diri sebagai anak-anak perempuan heteroseksual dan 23 persen yang menyatakan dirinya anak-anak laki-laki yang heteroseksual.

Bagi anak-anak perempuan kulit berwarna, yang sering mengalami komentar berbau rasial dan seksual, pelecehan dapat menjadi lebih berat.

Seorang ahli psikologi berdarah Asia-Amerika di California, yang meminta agar identitasnya dirahasiakan karena dia tidak mau para pasiennya mencari tahu kehidupan pribadinya, mengingat pernah menerima komentar-komentar kasar tentang tubuhnya ketika dia berusia 12 tahun.

"Salah satu kenangan awal saya adalah anak laki-laki dalam kelas yang jelas-jelas mengatakan bahwa dia akan berhubungan seks dengan saya," katanya.

Dia ingat bahwa komentar-komentar seperti itu sering diikuti oleh komentar rasis seperti "Apakah kamu punya banyak rambut kemaluan? Karena saya dengar orang-orang Asia tidak memiliki banyak rambut kemaluan."

Terlepas dari hasil kesehatan mental negatif yang dikaitkan dengan anak-anak perempuan yang mengalami pubertas dini, Therese Skoog, seorang profesor psikologi di University of Gothenburg, telah menemukan bahwa mereka juga bisa tampak lebih dewasa secara psikologis dan dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik.

Bagi saya sendiri, saya telah menemukan bahwa menjalani pengalaman-pengalaman seperti ini di usia yang muda menyebabkan empati dan ketajaman emosi yang lebih besar di masa dewasa, terutama dengan mereka yang berbagi pengalaman serupa.

Para peneliti setuju bahwa penting untuk tidak membesar-besarkan perkembangan seksual dini. Masalahnya bukan pada perubahan tubuh anak perempuan. Tetapi tanggapan lingkungan terhadap hal tersebut.

Sebagai hasilnya mereka mengatakan bahwa kita harus memikirkan tentang bagaimana kita dapat mendukung anak-anak perempuan dan keluarga mereka, dan sebagaimana yang disampaikan Roberts, "tantang budaya seksis yang dapat mengubah pubertas menjadi pengalaman yang mengganggu".

Skoog percaya bahwa jawabannya terletak pada pengembangan program pembelajaran sosial dan emosional yang mengajarkan prinsip dan konsep pendidikan seksual dasar seperti kesadaran sosial, kemampuan empatik dan kontrol diri.

Hal ini bisa menjadi bagian dari upaya intervensi di masa depan, dan digunakan untuk kebijakan yang ditujukan untuk mengurangi risiko pelecehan seksual bagi semua remaja, termasuk anak-anak perempuan yang dewasa di usia dini.

Kita perlu "meningkatkan perilaku sosial yang penuh hormat dan pemahaman bahwa baik penampilan seksual maupun aktivitas seksual tidak berarti anak-anak perempuan atau perempuan bersikap menerima dan terbuka terhadap segala jenis rayuan seksual."

Hanya dengan menciptakan lingkungan yang tidak ada toleransi sama sekali kita dapat bersikap menentang pelecehan seksual, termasuk ketika hal tersebut memengaruhi anak-anak.

Anda bisa membaca versi asli dari tulisan ini The health risks of maturing early di BBC Future.

Read More




Leave A Comment

More News

BBCIndonesia.com | Berita

Republika Online RSS Feed

NASIONAL

Waspada Online

ANTARA News - Nasional

News | Jakarta Globe

Indonesia News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.