Add to favourites
News Local and Global in your language
28th of May 2018

Indonesia



Ketika naik pangkat malah berujung petaka, apa yang harus dilakukan?

Mendapat promosi pekerjaan, naik pangkat, tentu dimimpikan kebanyakan orang. Namun, momen yang patut dirayakan ini ternyata bisa juga membuat kita lebih stres.

Salah satu peristiwa paling tidak menyenangkan di sepanjang karier Marcos Clowes, bukanlah ketika dia dipecat, tetapi malah saat dia dipromosikan naik pangkat.

Mengapa begitu? Pasalnya pangkat Clowes dinaikkan padahal pengalaman kerjanya, terutama di bidang manajerial, amatlah kurang. Dan dia pun nelangsa, karena merasa tidak punya kemampuan teknis untuk posisi barunya itu; seperti kepemimpinan. Sehingga performanya anjlok.

Ia merasa tidak siap, dan peningkatan karir itu justru "membuat saya kehilangan kepercayaan diri," kata Clowes yang merupakan konsultan logistik dan transportasi barang, yang berbasis di Stafford, Inggris. Dia pun keluar dari perusahaannya itu dan menemukan pekerjaan di tempat lain, yang lebih cocok.

Promosi pekerjaan memang layak dirayakan, tetapi tidak sedikit orang yang dipromosikan di waktu yang kurang tepat,sehingga malah berpotensi merusak karir.

Naik pangkat bisa berujung petaka, jika karyawan tidak memiliki soft skills yang diperlukan untuk pekerjaan baru yang cenderung lebih ke posisi manajerial, jelas Diane Domeyer, direktur eksekutif Creative Group at Robert Half, sebuah perusahaan perekrutan SDM yang berbasis di Amerika.

Atau karyawan memang tidak mau posisi yang menuntutnya bekerja lebih berat, meskipun naik pangkat adalah kesempatan yang menarik: "biasanya penyebabnya adalah karyawan tidak punya keahlian yang cukup atau tidak ada motivasi untuk melakukan tugasnya," kata Domeyer.

Apalagi jika naik pangkat karena terpaksa akibat politik kantor. Mereka yang dipaksa naik jabatan oleh staf yang lebih senior biasanya memiliki performa yang jelek, kata Tacy Byham, Presiden Direktur DDI, sebuah perusahaan perekrutan SDM di Amerika.

Pekerja yang merasa dipaksa untuk naik pangkat, tiga kali lebih tidak puas dengan posisi barunya, dan dua kali lebih sering berpikir untuk keluar, menurut data DDI. "Jika orang lain tak ada yang mau mengambil posisi baru itu atau Anda sendiri tak mau untuk jadi pemimpin, ini bisa berujung petaka," katanya.

Hampir 41% orang menerima promosi kerja, naik jabatan, dengan tujuan agar lebih dihormati rekan-rekannya. Sementara 29% karena kesempatan kerja mobile, berkeliling ke berbagai tempat. "Orang tertarik naik pangkat karena melihatnya sebagai simbol status, dan ini salah," tegas Byham.

Saat mempertimbangkan promosi, kata Edwin Trevor-Roberts, yang menjalankan perusahaan SDM di Brisbane, Australia, karyawan harus coba membayangkan bagaimana rasanya sehari atau seminggu berada di posisi baru itu, apakah kita merasa bisa menjadi pemimpin?

"Pertanyaan penting yang harus ditanyakan ke diri sendiri sebelum mengambil posisi itu adalah, 'apa saya merasa bisa menjadi pemimpin?'"

'Tahan ego'

Salah satu hal yang penting diketahui adalah kadang orang tidak langsung tahu kalau naik pangkat, bisa merusak karir mereka, kata guru kepemimpinan yang berbasis di Iowa, Jo Miller.

Contohnya Nigel Green, staf pemasaran dan penjualan dari Nashville, Amerika Serikat. Butuh setahun baginya untuk sadar bahwa pindah dari bagian penjualan ke posisi direktur, adalah kesalahan besar.

Setelah berbulan-bulan di posisi barunya itu, dia masih merasa belum siap menghadapi tantangan di pekerjaan barunya. Dia tidak bisa mengatur keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaannya.

Setelah hampir setahun, ketika dia nyaris dipecat, Green memutuskan untuk mengundurkan diri: "Saya harus memecat diri saya sendiri karena tidak sanggup lagi bekerja sampai 80 jam seminggu," katanya.

Dia kembali bekerja di posisi sebagai staf penjualan dan pemasaran, kali ini disebuat perusahaan kesehatan. Dia merasa lebih bahagia.

Dengan kemampuan komunikasi dan keuletan menangani bidang penjualan, Green tidak lagi berpikir untuk naik jabatan. "Kita harus menahan ego," katanya.

"Kalau ditawari naik pangkat, kita harus bertanya pada diri sendiri. Naik pangkat ini untuk siapa? Untuk saya dan keluarga? Atau hanya untuk mendapat decak kagum atau tepuk tangan orang lain?"

'Lakukan yang disukai'

Heidi McBain, seorang konsultan di sebuah perusahaan di Texas mengungkapkan, pindah ke bagian manajemen bisa sangat berat bagi orang-orang yang sebelumnya sangat mencintai pekerjaannya. Dia mengundurkan diri dari pekerjaannya setelah ditunjuk menjadi manajer dan harus berpisah dari para kliennya.

Meskipun posisi baru menawarkan gaji lebih besar, McBain rindu bekerja dan bertemu langsung dengan para klien. Kerja di bidang manajerial terasa sangat berbeda baginya.

Diane Domeyer dari Robert Half menekankan, sekarang zaman sudah berubah. Karena banyak perusahaan cenderung lebih "rata" soal karyawan. Sekarang mayoritas staf berada di posisi tengah.

"Banyak karyawan, baik yang bekerja di bidang IT atau industri kreatif, punya andil besar bagi perusahaan tanpa harus menjadi manajer," kata Domeyer. "Peran Anda bagi perusahaan tidak lagi terkait dengan tinggi jabatan Anda."

Ketika menasehati sejumlah karyawan muda, Jo Miller menyatakan bahwa mereka harus hati-hati menerima promosi jabatan. Coba lihat lagi pekerjaan yang Anda miliki sekarang. Apakah sudah puas. Kalau sudah puas, apakah perlu segera naik ke posisi yang lebih tinggi?

Dia kerap pula mengingatkan karyawan muda terkait mitos bahwa naik jabatan selalu menguntungkan, "Kita tak harus takut untuk mundur, dan kadang mundur, turun jabatan adalah hal yang lebih baik," katanya.

Anda bisa membaca versi asli dari artikel ini dengan judul What to do when your promotion backfires? di BBC Capital.

Read More




Leave A Comment

More News

BBCIndonesia.com | Berita

Republika Online RSS Feed

Waspada Online

News | Jakarta Globe

Indonesia News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.