Add to favourites
News Local and Global in your language
20th of June 2018

Indonesia



Kesenjangan upah muncul sejak kita remaja

Saat para remaja perempuan menegosiasikan upah mereka, mereka terlihat 'tak menyenangkan dan lebih manipulatif', bertentangan dengan kepedulian.

Saya menghabiskan waktu yang menyenangkan selama satu dekade terakhir menghadiri lokakarya yang membahas bantuan bagi perempuan menghadapi permasalahan tipikal: ketimpangan upah.

Seperti kursus tentang mempertahankan diri yang kemudian dikenal luas di awal 1980-an, solusi memerangi kesenjangan bayaran dibangun melalui lokakarya serupa: mengajari perempuan menegoisasikan dan memahami nilai diri mereka.

Namun dengan lokakarya seperti itu, kita sebenarnya membuat kekeliruan parah. Kita mengalihkan beban ketimpangan gaji itu kepada korban diskriminasi dan menyalahkan jurang perbedaan upah itu pada pilhan yang mereka ambil.

Penelitian terakhir saya menunjukkan, ketimpangan upah berawal jauh sebelum pilihan karier dan negosiasi gaji terjadi: remaja perempuan berumur 14 dan 15 tahun terus-menerus mendapat bayaran yang lebih rendah dibandingkan kolega laki-laki mereka.

Saya menggunakan indikator negara, kumpulan daya berskala besar, Kajian Remaja Jangka Panjang Nasional, untuk melihat kecenderungan umum, sekaligus mewawancarai 35 perempuan muda yang bekerja sebagai pramusiwi dan 25 perempuan di sektor jasa dan pemasaran produk di Amerika Serikat.

Saya menguji yang terjadi ketika remaja dan perempuan muda menegoisasikan upah mereka. Dalam konteks pramusiwi, negoisasi bukanlah cara tepat menanggulangi ketimpangan itu.

Alasannya, ketika mereka membahas upah, mereka terlihat tidak menyenangkan dan manipulatif. Oleh karenanya, mereka nyaris mustahil mendapatkan kenaikan gaji.

Lebih dari itu, membicarakan upah sepertinya bertentangan dengan kepedulian, terutama dalam pekerjaan yang mensyarakatkan nilai-nilai itu, meminta bayaran lebih membuat perempuan muda tampak tidak memiliki afeksi sehingga mereka tak cocok dipekerjakan.

Ada sejumlah cara menghadapi persoalan ini sepereti yang saya tuliskan di bawah ini. Namun yang terpenting, menurut saya, harus ada pengalihan beban dari perempuan sebagai korban dari situasi diskriminatif ini,

Kita harus menganggap ketimpangan upah sebagai kesalahan sistematis yang melembaga, bukan kegagalan perempuan menegoisasikan bayaran mereka.

Paradoks informasi lubang hitam

Salah satu tantangan utama dalam negosiasi gaji adalah minimnya informasi. Banyak perempuan muda yang saya wawancarai mengaku tak mengetahui upah rata-rata untuk pekerjaan yang mereka lamar.

Di era informasi, ketiadaan transparansi upah merupakan hal yang mengejutkan. Kita perlu mempublikasikan standar upah dan memudahkan perempuan mengaksesnya.

Kurangnya informasi itu lazim terjadi pada pekerjaan lepas seperti pramusiwi. Meski sejumlah situs seperti Glassdoor membuka peluang bagi para pekerja mempublikasikan upah mereka.

Tak banyak website serupa dan kalaupun ada, mereka tak mencakup pekerjaan lepas. Situs seperti ini bergantung pada data pribadi yang tak dapat menggambarkan industri itu secara komprehensif.

Pergi ke wawancara kerja dan mendapatkan informasi tentang standar upah untuk posisi itu merupakan aspek yang terpenting. Tidak masalah berapa besar yang anda negoisasikan, jika anda mendiskusikan upah yang lebih rendah dibandingkan yang pernah anda terima.

Belajar berbicara tentang uang

Bukan hanya kelangkaan informasi yang menjadi hambatan, perempuan juga terbiasa bergaul tanpa membahas materi.

Banyak perempuan muda yang berbicara dengan saya berkata, mereka tidak merundingkan standar upah pramusiwi dengan teman mereka. Kita dapat membuat budaya yang terbuka atau transparan, mengajari anak kita untuk membicarakan materi.

Meski terdapat sedikit laki-laki yang bekerja sebagai pengasuh anak, mengejutkan bahwa mereka sebenarnya mengetahui standar upah untuk pekerjaan itu dan saling berbagi informasi itu dengan kolega kerja, tapi tidak dengan pramusiwi perempuan.

Apakah ini berarti jejaring ini hanya bermanfaat bagi pekerja laki-laki dan bukan untuk perempuan?

Jejaring yang dibuat para perempuan muda ini sepertinya menyediakan sedikit sekali informasi standar upah. Faktanya, kelompok itu justru berupaya menghentikan pertanyaan seputar gaji.

Seorang pramusiwi muda berkata kepada saya, dia merawat anak ibu baptisnya dan tak dapat menuntut upah lebih.

Deskripsi pekerjaan tak bias gender

Menurut saya, ketimpangan upah jelas bukan hanya soal gaji, tapi juga tentang deskripsi pekerjaan yang dapat diperbandingkan.

Solusinya adalah memastikan kita memiliki gambaran pekerjaan yang sama untuk laki-laki dan perempuan.

Ketika anda meminta sang orang tua mendeskripsikan peran pramusiwi yang ternyata bergantung pada gender, pekerjaan itu jelas timpang.

Pramusiwi perempuan diminta mengerjakan beberapa tugas rumah tangga: menjalankan pesanan dan pekerjaan rumah, memasak untuk keluarga serta membantu anak mengerjakan tugas sekolah.

Sementara itu, pramusiwi laki-laki jarang diminta melakukan tugas tambahan. Seperti upah, penting memastikan deskripsi pekerjaan dapat diakses secara umum, termasuk waktu kerja yang kadang dibedakan atas dasar jenis kelamin.

Jam kerja pramusiwi laki-laki dimulai dan berakhir tepat waktu. Di sisi lain, pramusiwi perempuan kerap bekerja di luar perjanjian tanpa bayaran lebih: setengah jam setelah jam kerja normal, sang orang tua akan berbincang dengan mereka, dari kutu rambut hingga tugas sekolah.

Perbedaan jam kerja tanpa upah itu penting karena menganggap waktu yang dimiliki perempuan tidak lebih berharga dibandingkan laki-laki. Ini soal penghargaan terhadap batasan laki-laki, termasuk waktu mereka, bukan perempuan.

Proses wawancara

Terdapat pula perbedaan soal bagaimana pemberi kerja memperlakukan pelamar ketika wawancara.

Pemberi kerja lebih sering bertnya pada pramusiwi laki-laki tentang besaran upah yang mereka harapkan. Namun mereka hanya memparkan standar gaji kepada calon pramusiwi perempuan.

Hal ini terlihat sederhana tapi pemberi kerja lebih terbuka pada pelamar laki-laki soal uang, bukan kepada pelamar perempuan.

Sama halnya saat negosiasi upah, orang tua lebih terbuka soal sejumlah keuntungan lain dalam pekerjaan itu, antara lain pergantian ongkos perjalanan.

Namun mereka tidak membagikan hal ini kepada calon pramusiwi perempuan.

Pemaparan ini tidak berarti perempuan harus menegoisasikan berapa besar upah mereka, tapi kita harus menganalisis seberapa besar perbedaan jika pelamar perempuan menanyakan hal itu.

Bukannya menyediakan lokakarya untuk para pekerja perempuan, barangkali ini adalah waktu yang tepat untuk mengingatkan pemberi kerja dan mereka yang berada di bidang pencarian tenaga kerja tentang dampak dari kebijakan mereka.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul How the pay gap starts when we are teenagersdiBBC Capital.

Read More




Leave A Comment

More News

BBCIndonesia.com | Berita

Republika Online RSS Feed

Waspada Online

News | Jakarta Globe

Indonesia News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.