Add to favourites
News Local and Global in your language
16th of July 2018

Indonesia



Dianggap tak efektif, pencarian korban KM Sinar Bangun resmi dihentikan

Operasi terpadu pencarian korban Kapal Motor Sinar Bangun resmi dihentikan, Selasa (03/07), karena Badan SAR Nasional menganggap upaya itu tak akan menemukan korban selamat maupun jenazah yang utuh.

Koordinator tim pencarian, Budiawan, menyebut penghentian operasi didasarkan pada kesepakatan antara keluarga korban, Pemkab Simalungun, Jasa Raharja, Basarnas, dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi.

Budiawan mengatakan para pihak tersebut mempertimbangkan biaya, peralatan, hingga waktu untuk menemukan seluruh korban dan mengangkat bangkai kapal yang berada di kedalaman 450 meter saat mengambil keputusan.

"Kalaupun jenazah dapat ditarik, sudah tidak utuh lagi, cuma dapat tangan. Pencarian tidak efektif dan korban tidak lagi ditemukan," ujar Budiawan kepada BBC News Indonesia.

Meski begitu, tak seluruh keluarga korban sependapat. Erwin Suheki adalah salah satunya. Anaknya sempat hilang meski belakangan ditemukan selamat namun sembilan rekan anaknya hingga kini belum ditemukan.

"Kok mesti dihentikan, kalau bisa dicari dulu semampu mereka," tuturnya Erwin saat dihubungi dari Jakarta.

Dengan penghentian pencarian. menurut Budiawan, maka seluruh pencari, baik dari militer hingga kepolisian, akan ditarik dari Parapat.

Mulai Rabu (04/07), hanya tim SAR setempat, personel Polairut Polres Samosir, dan Koramil 01/Simanindo yang akan menggelar patroli rutin di Danau Toba.

"Jika ada korban yang mengambang akan kami evakuasi. Kami juga akan menerima informasi dari masyarakat," tuturnya.

Budiawan menyebut lembaganya memiliki dua perahu karet untuk patroli rutin di Danau Toba.

Operasi pencarian KM Sinar Bangun berlangsung selama 16 hari dan Basarnas menyatakan sebanyak 164 penumpang belum ditemukan.

Angka korban hilang itu muncul meski awak kapal tak membuat manifes saat hendak berlayar dari Tigaras menuju Simanindo.

Selama pencarian, 21 penumpang diselamatkan semenara tiga penumpang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Pekan lalu, platform robotik bawah permukaan air sempat digunakan oleh tim pencari dapat memotret citra jenazah dan kendaraan yang diduga diangkut KM Sinar Bangun namun robot itu disebut tersangkut tali yang melilit di sekitar bangkai kapal.

Penghentian operasi pencarian ditandai dengan prosesi tabur bunga dan peletakan batu pertama monumen korban KM Sinar Bangun di Pelabuhan Tigaras, Selasa (03/07).

Prosesi itu, seperti dilaporkan kantor berita Antara, berlangsung dalam isak tangis dan sejumlah anggota keluarga korban bahkan sempat pingsan akibat emosional dan kondisi fisik yang lemah.

Upacara melibatkan seluruh perwakilan keluarga korban, pemuka agama, dan Bupati Simalungun, JR Saragih.

Monumen kelak akan memuat seluruh nama penumpang Sinar Bangun, lengkap dengan tanggal lahir.

Bagaimana jika tetap diteruskan?

Menurut Kepala Forensik Rumah Sakit Polri Jakarta, Kombes Edi Purnomo, jenazah biasanya akan mengambang ke permukaan air setelah tiga atau empat hari usai kecelakaan.

Jika tim pencari tak menemukan jenazah mengapung, tambah Edi, tubuh korban kemungkinan terhambat bangkai kapal atau benda lain di dalam air, "Jenazah akan mengapung karena proses pembusukan di dalam perut yang membentuk gas," tuturnya.

Edi menilai tim forensik akan kesulitan menentukan identitas korban yang ditemukan lebih dari dua pekan pasca-kejadian mengingat jenazah yang berada di dalam danau atau laut kemungkinan rusak dimakan ikan.

"Kalau ditemukan, mungkin tinggal tulang. Kalau tulang lengkap, secara medis bisa diidentifikasi. Tapi kalau yang ditemukan cuma jari, sulit sekali," tuturnya.

Lebih dari itu, Edi menyebut harapan hidup korban yang sempat tenggelam tipis, begitu pula dengan korban yang mengapung di permukaan air.

"Kalau terperangkap di bawah air, dalam 24 jam persediaan oksigen di tubuh habis, berganti CO2 yang meracuni."

"Kalau di atas permukaan air tawar, manusia dapat bertahan lebih lama karena mereka bisa minum. Mereka bisa menahan lapar selama tiga hari. Tapi semakin lama, energi akan berkurang dan lama-lama tenggelam," ujar Edi.

KM Sinar Bangun tenggelam 18 Juli lalu di perairan Danau Toba, dalam perjalanan dari Simanindo dan Tigaras. Menteri Perhubungan Budi Karya Samadi menyebut kapal itu hanya mengangkut lebih dari 180 orang meski berkapasitas 43 penumpang.

Sejauh ini Polda Sumatera Utara menetapkan empat tersangka atas peristiwa itu, yaitu pemiliki sekaligus nahkoda Sinar Bangun, Poltak Soritua Sagala, dan tiga pegawai Dinas Perhubungan.

Read More




Leave A Comment

More News

BBCIndonesia.com | Berita

Republika Online RSS Feed

NASIONAL

Waspada Online

News | Jakarta Globe

Indonesia News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.