Add to favourites
News Local and Global in your language
18th of July 2018

Indonesia



Kondisi gua di Indonesia seperti di Thailand, berisiko terbenam air

Kondisi gua-gua di Indonesia diperkirakan sama dengan di Thailand, antara lain yang menjadi tempat terperangkapnya 12 anak dan remaja bersama pelatihnya selama sembilan hari sebelum akhirnya berhasil ditemukan.

Hal tersebut dijelaskan oleh Cahyo Alkantana, Presiden Asosiasi Wisata Goa Indonesia (Astaga) dan pemilik perusahaan wisata gua Jomblang Cave Resort, kepada wartawan BBC Indonesia, Liston P Siregar.

Kenyataannya adalah banjir di dalam gua disebabkan air hujan yang masuk terlalu banyak ke dalam sistem perguaan -yang juga bisa terjadi di gua di Indonesia- sehingga gua tidak mampu lagi menampung atau mengalirkan air secara langsung dan kemudian tertahan di lubang-lubang gua.

"Kasus ini sama seperti dengan yang di Thailand. Pemain sepak bola itu kan lari ke atas dan menemukan satu ruangan yang lebih tinggi, yang saya kira kemungkinan pada posisi paling tinggi, Untungnya permukaan air tidak naik lagi. Mereka beruntung," jelas Cahyo yang melihat rekaman video dan foto-foto tentang ke-13 orang yang terperangkap di kompleks gua Tham Luang di Chiang Rai, Thailand utara.

Mereka terperangkap di dalam gua selama sembilan hari sebelum ditemukan dalam keadaan hidup, Senin (02/07) malam, namun mungkin harus menunggu air surut selama berbulan-bulan atau belajar menyelam agar, bisa keluar dari gua, menurut militer Thailand.

Menurut pengamatan Cahyo, ada kesan para anak dan remaja di Thailand itu 'ceroboh' saat memasuki gua yang berair.

"Kalau saya lihat anak-anak itu tidak pakai helm, pakai sepatu bola. Itu sekelompok anak muda yang, maksudnya: 'ayo masuk-masuk yok' tanpa memakai peralatan. Mereka masih beruntung karena selama sembilan hari bertahan, ketersediaan pangan itu bagaimana saya tidak tahu, bisa survive (selamat)," tambah Cahyo.

Berbeda dengan tersasar di hutan -yang masih punya ketersediaan makanan darurat dari tanaman- maka di gua itu kemungkinan mendapatkan makanan amat kecil atau bahkan sama sekali tidak ada.

"Bagaimana mencari makanan. Kalau tidak ada lampu maka tidak bisa melangkah karena tangan di depan mata saja tidak bisa dilihat. Kita bergerak satu langkah saja bisa jatuh ke dalam air atau lubang."

___________________________________________________________________________

'Masyarakat prihatin ketimbang saling menyalahkan'

Penjelasan Dodo Sudrajat, Koordinator penerangan sosial dan budaya KBRI di Bangkok, kepada BBC News Indonesia

Upaya penyelamatan belasan remaja Thailand yang terperangkap dalam gua yang mendapat perhatian masyarakat itu otomatis mendapat perhatian dari raja Thailand.

Raja Thailand mengajak rakyatnya untuk berdoa bersama agar belasan remaja yang terjebak dalam gua itu selamat.

Peristiwa ini juga mendapat peliputan luar biasa dari media online, cetak atau televisi, sehingga masyarakat merasakan kesedihannya.

Sebelum ditemukan, masyarakat Thailand was-was, karena sudah begitu lama terperangkap. Dan saat sudah ditemukan dalam kondisi selamat, semua gembira.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Pemerintah Thailand juga melibatkan sekitar 1.000 orang, termasuk dari luar negeri, dalam proses penyelamatan para remaja ini.

Ini menjadi bukti betapa seriusnya otoritas negara ini, apalagi media sangat, sangat, sangat antusias meliput proses penyelamatan ini.

Semua pihak selalu mengikuti pemberitaannya karena mereka khawatir terhadap nasib belasan siswa tersebut dan pemberitaan gencar mendorong otoritas berusaha maksimal untuk menemukan mereka.

Masyarakat Thailand secara umum bersimpati karena upaya pencarian yang dilakukan pemerintah Thailand sangat serius, termasuk dengan melibatkan tenaga ahli dari negara lain.

Dan yang menarik, masyarakat petani yang tinggal di sekitar gua merelakan sawahnya menjadi tempat penampungan air yang disedot dari dalam gua walau sawahnya menjadi rusak karena kebanyakan air.

Tidak seperti di Indonesia yang terbiasa saling mengkritik, orang-orang di Thailand lebih fokus pada keprihatinan dan mendoakan agar proses penyelamatan berjalan lancar.

Jadi bukan saling menyalahkan terkait keputusan sang pelatih yang membawa belasan anak melakukan perjalanan ke dalam gua. Hal itu tidak mendapat sorotan.

________________________________________________________________________

Sebagai pemilik perusahaan wisata penelusuran gua dan pimpinan asosiasi wisata, Cahyo Alkantana menegaskan bahwa sudah ada standar keselamatan yang baku di Indonesia, termasuk early warning system atau sistem peringatan dini.

Salah satunya adalah dengan memperhatikan yang disebut catchment area atau daerah tangkapan hujan di kawasan gua tersebut.

"Apabila hujan cukup lebat, itu kemungkinan besar permukaan air di catchment area itu akan naik., Nah kita stop dulu tidak boleh ada kegaitan wisata penelusuran gua. Harus ditutup dengan tegas. Kalau diabaikan maka bisa terjadi kecelakaan," tutur Cahyo.

Selain itu pada musim hujan, penelusuran gua ditutup sama sekali selain diterapkannya pembatasan jumlah penelusur gua pada musim-musim tertentu, khususnya untuk gua-gua basah.

Cahyo menambahkan biasanya risiko kecelakaan terjadi di 'gua-gua liar' yang belum disurvei dan juga dalam penelusuran yang dilakukan oleh orang per orang.

Di Indonesia beberapa kali terjadi kecelakaan saat penelusuran gua walau tidak semuanya disebabkan banjir di dalam gua. Data dari Masyarakat Speleologi Indonesia, MSI, memperlihatkan banyak kecelakaan terjadi karena penelusur gua yang terjatuh maupun tertimpa bebatuan.

Namun tahun 2012, tiga anggota Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (Hikespi) meninggal dunia saat mengikuti pendidikan lanjutan susur gua di Goa Seropan II, Gunungkidul, Yogyakarta. Ketiganya meninggal dunia setelah terjebak banjir di dalam gua.

Seorang penelusur gua, Nafikurochman, mengatakan bahwa pengamatan musim amat penting sebelum melakukan penelusuran, khususnya pada musim peralihan.

"Waktu mendekati musim kemarau, kadang masih hujan kencang, nah itu yang harus kita antisipasi. Kita juga bisa pelajari siklus iklim dengan update yang terbaru."

Sebagai penelusur gua yang tergolong berpengalaman, yang sudah aktif sejak tahun 2000 lalu, dia juga pernah menghadapi risiko terancam banjir di sebuah gua di kawasan Gunung Kidul, Yogyakarta.

"Pada waktu itu mendekati akhir musim hujan di bulan Maret dan ketika terjadi hujan lagi ternyata ada sungai kecil yang tidak diprediksi, sehingga akhirnya terjadi luapan besar," kenang Nafikurochman.

Kepada para penelusur gua yang tergolong baru, dia menyarankan tiga hal:

Jangan mengabaikan musim. Analisis guanya dan analisis risikonya. Jangan terlalu semberono, jangan terlalu berani untuk eksplorasi gua tanpa informasi yang cukup. Read More




Leave A Comment

More News

BBCIndonesia.com | Berita

Republika Online RSS Feed

NASIONAL

Waspada Online

News | Jakarta Globe

Indonesia News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.