Add to favourites
News Local and Global in your language
20th of September 2018

Indonesia



Peringatan bagi Anda yang bekerja dengan orang-orang narsis

Banyak tempat kerja setidaknya memiliki satu orang yang rasa percaya dirinya lebih besar dibandingkan kemampuannya. Meski tak disenangi, sifat itu ternyata menyimpan keuntungan mengejutkan.

Hampir setiap kantor terdapat satu orang seperti ini. Orang yang rasa percaya dirinya melampaui kemampuan mereka, yang meremehkan rekan kerja, serta menganggap diri mereka sangat special dan unik.

Orang-orang berkarakter seperti ini geram saat orang lain tak mengakui talenta mereka.

Kita tengah membicarakan orang paling narsis di kantor.

Terminologi itu berasal dari mitologi Yunani, bermula saat pemburu bernama Narcissus jatuh cinta dengan dirinya sendiri tatkala ia melihat wajahnya terpantul dari air kolam.

Sayangnya, obsesi terhadap diri sendiri yang dipendam orang-orang narsis bukan mitos di tempat kerja. Mengenal tindak tanduk mereka dapat mencegah anda mengalami stress berkepanjangan.

Pada awal kariernya, Karlyn Borysenko, penulis buku Zen Your Work, menyadari ia tengah bekerja untuk orang narsis.

"Saya sungguh menyukainya. Saya kira dia karismatik dan cerdas. Saya sangat bersemangat bekerja untuknya," kata Borysenko.

"Butuh tiga bulan mengamatinya setiap hari sebelum saya sadar, ada hal yang sangat keliru dengan situasi kerja saat itu."

"Dan akhirnya saya menyadari fakta bahwa saya tengah bekerja untuk orang yang narsis," ujarnya.

Borysenko berkata, sebagian besar pekerjaannya adalah memuji dan membuat atasannya merasa nyaman serta mempromosikannya di internal organisasi.

"Jika anda tidak menjalankan itu, akan ada ganjaran besar," tuturnya.

Ketika hal itu berlangsung terus-menerus, kata Borysenko, anda akan merasa gila. "Apa yang dilihatnya yang tak dapat saya lihat?"

"Apa yang mereka mengerti tapi tidak saya pahami? Dan anda harus menyadari fakta bahwa ini lebih tentang bagaimana mereka mempersepsikan dunia ketimbang apa yang anda kerjakan."

Borysenko bukanlah satu-satunya orang di kantor itu yang gelisah dengan narsistik atasan mereka. Namun bukannya bersatu untuk memahami keadaan, teman kerjanya justru bersikap antipati karena tertekan tak memiliki kuasa mengubah dinamika kerja.

"Keadaan menjadi seperti kompetisi, siapa yang akan dihormati oleh atasan, bergantung pada kemampuan untuk benar-benar menemukan realitas yang terjadi di sekeliling mereka tanpa mempedulikan fakta objektif, bukti atau data."

"Segalanya harus berjalan untuk mempertahankan citra diri mereka," ujar Borysenko.

Sisi buruknya, meskipun tak menyenangkan bekerja dengan orang-orang seperti ini, beragam kajian menyebut orang-orang narsis cemerlang dalam perjalanan karier mereka—dan terkadang kecenderungan itu positif dalam dunia usaha.

Minimnya rasa empati, fokus pada target yang ingin mereka raih, kebohongan dan manipulasi adalah kualitas lazim yang dilakukan orang untuk memegang kendali.

Dr Tim Judge adalah psikolog di bidang kepemimpinan dan organisasi di Universitas Negeri Ohio, Amerika Serikat. Penelitiannya menganalisis dampak keberadaan orang narsis dalam dunia usaha.

Judge berkata, orang narsis biasanya mempunyai karakter yang membuat mereka cocok menyandang status pemimpin.

"Orang narsis cenderung karismatik. Mereka lebih patut mengendalikan situasi, yang terkadang dibutuhkan…dan mereka lebih bersedia dan mampu menanggung resiko ketika dibutuhkan."

"Dan ada situasi krisis dalam perusahaan yang membutuhkan sifat-sifat tadi," ujar Judge.

Dan merujuk pertanyaan lawas tentang watak bawaan atau sifat hasil didikan—apakah narsisme muncul sejak lahir atau dapatkah perangai itu dikembangkan dari waktu ke waktu?

Judge berkata, dua-duanya dapat dibenarkan. Meski beberapa studi menekankan sifat narsis bawaan, ada pula yang menunjukkan bahwa didikan orang tua, tingkat pendapatan, dan hal-hal yang terjadi di tempat kerja berkontribusi pada munculnya narsisme.

"Orang-orang yang lahir dalam status sosial-ekonomi tinggi atau rumah tangga berpendapatan besar cenderung memiliki skor tinggi," kata Judge.

"Didikan orang tua yang mendorong penghargaan yang berlebihan terhadap diri sendiri juga memicu narsistik," tuturnya.

Apakah temuan itu terdengar familiar? Tidak mengejutkan, banyak figur terkenal mengidap sifat ini.

"Ini karakter lazim para pimpinan politik ketika mereka berada dalam kemelut dan mendorong munculnya ide atau pendapat bawahan mereka."

"Tidak sulit menyebut banyak presiden Amerika Serikat yang karismatik adalah seorang yang narsis," ujar Judge merujuk John F Kennedy dan Ronald Reagan sebagai contoh.

Lantas, bagaimana persepsi tentang orang-orang narsis yang cenderung berhasil dalam karier walaupun tidak menunjukkan performa mumpuni?

Dr Judge berkata, jawabannya merujuk pada fakta bahwa orang-orang kategori ini secara terang-terangan fokus mengejar status, yang artinya, mereka memusatkan diri pada kebutuhan sendiri ketimbang orang lain.

"Dalam hal keberhasilan karier, kita tahu orang-orang ini cenderung ringan tangan, jadi penghasilan dan prestise pekerjaan—agak kasar menyebutnya, namun ini benar—adalah hal yang paling dipedulikan orang-orang narsis," kata Judge.

Lalu dapatkan sedikit sifat narsis mendorong karier anda? Jika anda harus meyakinkan pemodal atau pelanggan untuk memberi anda uang, rasa percaya diri krusial. Tapi pada titik apa kepercayaan diri itu berbalik menjadi khayalan?

Ini adalah urusan yang beresiko, kata Don Moore, guru besar ilmu kepemimpinan di Haas Business School, California.

"Ada banyak keadaan dalam kehidupan yang perlu disesuaikan dan memanipulasinya—atau membodohi diri sendiri tentang seberapa hebat anda—dapat berujung pada sejumlah kekeliruan terprediksi yang patut disayangkan," ujarnya.

Yang menarik, dalam dunia usaha, seringkali ada situasi ketika orang-orang yang percaya diri secara berlebihan terlihat melaju ke puncak karier.

"Ketika kita menerima klaim kepercayaan diri mereka tanpa mempertimbangkan sosok asli mereka, kitalah yang jusru akan merugi."

"Kita akan terus-terusan mendukung dan mengusulkan orang manipulatif yang terlalu percaya diri, yang sebenarnya tidak dapat melakukan hal yang mereka katakan."

"Untuk dipromosikan ke posisi pimpinan, anda harus benar-benar mumpuni dan beruntung," kata Moore.

"Akan selalu ada godaan untuk salah menghubungkan keberuntungan dan kemampuan seseorang, dan ketika anda melakukan itu, anda akan berpikir anda lebih baik daripada diri anda yang sebenarnya."

Namun di luar hal ini, masih ada sejumlah keuntungan dari semboyan 'manipulasilah sampai anda berhasil'.

"Jangan jatuh dalam sindrom berpura-pura menjadi orang lain," kata Moore merujuk pada pola pikir yang meyakini anda tak sanggup dan pantas memegang tanggung jawab tertentu.

"Sindrom menganggap diri sebagai penipu sungguh sebuah persoalan dan rasa tidak percaya diri terjadi dalam keadaan yang dapat diprediksi…dalam tugas berat di mana anda lebih sadar pada kelemahan, jadi lebih berani dan mengatasi sindrom itu, yakin pada diri sendiri untuk menguasi situasi adalah saran yang bijak."

Sungguh, kita sebenarnya bisa belajar dari nilai-nilai kepercayaan diri orang narsis.

Karlyn Borysenko merujuk pada kemampuan orang-orang itu menciptakan realita sebagai pendorong untuk mencapai titik yang mereka inginkan.

"Itu karena mereka bertindak seolah-olah situasi itu nyata dan sering kali itu yang mendorong mereka meraih kesuksesan."

"Kita melihat ini dalam diri Donald Trump di Amerika Serikat. Sungguh dia percaya dia dapat menjadi presiden dan itu terwujud. Itu tak akan terjadi jika dia tidak meyakininya," kata Borysenko.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris diBBC Capitaldengan judulThe warning signs you're working for a narcissist.

Read More




Leave A Comment

More News

BBCIndonesia.com | Berita

Republika Online RSS Feed

NASIONAL

Waspada Online

ANTARA News - Nasional

News | Jakarta Globe

Indonesia News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.