Add to favourites
News Local and Global in your language
17th of August 2018

Indonesia



Bisakah Anda melupakan bahasa ibu Anda?

Anda bisa lupa bahasa ibu Anda, bahkan saat Anda sudah dewasa. Namun mengapa dan bagaimana hal ini terjadi, rumit dan di luar nalar.

Saya duduk di dapur saya di London, berusaha mengerti isi pesan teks saudara laki-laki saya. Dia tinggal di negara asal kami di Jerman.

Kami berbicara dalam bahasa Jerman satu sama lain, bahasa yang kaya dengan kata-kata aneg, namun kata yang ini saya belum pernah dengar sebelumnya: fremdschämen. "dipermalukan-orang asing"?

Saya terlalu sombong untuk menanyakan kepadanya artinya. Saya pasti akan mengetahuinya suatu waktu nanti. Namun, rasanya sedikit pahit saat menyadari bahwa setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri, bahasa ibu saya kadang terdengar asing.

Kebanyakan migran yang sudah pergi lama tahu rasanya sulit berbicara dalam bahasa ibu. Prosesnya terlihat jelas: semakin lama Anda meninggalkan tempat asal, semakin banyak bahasa ibu yang Anda lupakan. Namun tidak sesederhana itu.

Yang ada, mengapa dan bagaimana secara ilmiah kita bisa melupakan bahasa ibu kita itu rumit dan di luar nalar. Ternyata seberapa lama Anda meninggalkan asal Anda tidak selalu berdampak.

Bersosialisasi dengan orang lain dengan bahasa ibu yang sama di luar negeri justru dapat memperburuk bahasa ibu Anda. Dan faktor emosional seperti trauma dapat menjadi salah satu faktor terbesar.

Bukan hanya migran yang sudah lama yang terdampak, tapi sampat ke titik tertentu juga siapapun yang sedang belajar bahasa kedua.

"Begitu Anda belajar bahasa lain, kedua sistem mulai bersaing satu sama lain," kata Monika Schmid, seorang ahli bahasa di University of Essex.

Schmid adalah seorang peneliti terkemuka di bidang bahasa yang terkikis, sebuah bidang penelitian yang berkembang yang meneliti apa yang membuat kita kehilangan bahasa ibu kita.

Pada anak-anak, fenomena ini lebih gampang dijelaskan karena otak mereka pada umumnya lebih fleksibel dan lebih mudah beradaptasi. Hingga sekitar usia 12 tahun, kemampuan bahasa seseorang relatif lebih rentan untuk berubah.

Penelitian pada anak-anak yang diadopsi ke luar negeri menemukan bahwa seorang anak usia sembilan tahun dapat hampir sepenuhnya melupakan bahasa pertama mereka saat mereka dipindahkan dari negara kelahiran mereka.

Namun di orang dewasa, bahasa pertama tampak tak mungkin dilupakan sepenuhnya kecuali di kondisi-kondisi ekstrim.

Misalnya, Schmid menganalisa orang Jerman keturunan Yahudi yang mengungsi saat masa perang di Inggris dan AS.

Faktor utama yang mempengaruhi kemampuan berbahasa mereka bukanlah berapa lama mereka sudah berada di luar negeri atau usia mereka saat meninggalkan tanah asal. Namun berapa besar trauma yang mereka alami sebagai korban persekusi Nazi.

Orang-orang yang meninggalkan Jerman di awal-awal rezim, sebelum kekejaman terburuk dimulai, cenderung berbicara bahasa Jerman lebih baik - meskipun sudah mengungsi lebih lama.

Orang-orang yang mengungsi kemudian, setelah pogrom 1938 yang dikenal sebagai Reichskristallnacht, cenderung kesulitan berbicara bahasa Jerman atau tidak bisa sama sekali.

"Terlihat jelas ini dampak dari trauma," kata Schmid. Meskipun bahasa Jerman adalah bahasa yang digunakan ketika kecil, di rumah dan di keluarga, itu juga merupakan bahasa dengan memori yang menyakitkan.

Pengungsi yang sangat trauma telah menekannya. Seperti salah satu mereka mengatakan: "Saya merasa Jerman mengkhianati saya. Amerika adalah negara saya dan Inggris adalah bahasa saya."

Beralih bahasa

Hilangnya kemampuan berbahasa seperti itu adalah sebuah pengecualian. Di kebanyakan migran, bahasa ibu lebih kurang hadir bersama bahasa baru di ingatan.

Seberapa baik bahasa ibu dipertahankan sangat berkaitan dengan talenta dalam diri seseorang: orang yang cenderung jago dalam bahasa cenderung lebih baik mempertahankan bahasa ibu mereka, tak peduli selama apa mereka jauh dari tempat asal.

Namun kemahiran berbahasa ibu juga sangat kuat terkait dengan bagaimana kita mengatur perbedaan bahasa di otak kita.

"Perbedaan mendasar antara seorang yang memiliki kemampuan ekabahasa dan dwibahasa adalah ketika Anda dwibahasa, Anda harus menambah sejenis modul kendali yang mengizinkan Anda untuk beralih," kata Schmid.

Bergaul dengan orang berbicara bahasa ibu yang sama dapat memperburuk keadaan

Dia mencontohkan ketika dia melihat objek di depannya, otaknya dapat memilih antara dua kata, meja dalam bahasa Inggris 'desk' and atau dalam bahasa Jerman 'Schreibtisch' (Schmid adalah orang Jerman).

Dalam konteks Inggris, otaknya menekan 'Schreibtisch' dan memilih 'desk', dan kebalikannya. Jika mekanisme kontrol ini lemah, seseorang dapat kesulitan untuk mencari kata yang tepat atau tetap mengucapkan bahasa keduanya.

Bergaul dengan orang yang berbicara bahasa ibu yang sama dapat memperburuk keadaan, karena kurangnya insentif untuk tetap menggunakan satu bahasa yang Anda tahu akan diketahui keduanya. Hasilnya biasanya menimbulkan hibrida linguistik.

Di London, salah satu kota dengan penduduk berkemampuan multibahasa terbanyak, hibrida seperti ini sangat umum sehingga hampir terasa seperti dialek kaum urban. Lebih dari 300 bahasa diucapkan disini, dan lebih dari 20% penduduk kota London berbicara sebuah bahasa utama di luar Inggris.

Pada suatu hari Minggu berjalan mengelilingi taman-taman di London Utara, saya mendengar lebih dari sepuluh dari antara mereka, dari bahasa Polandia hingga Korea, semua dicampur dengan Inggris sampai tingkatan tertentu.

Di atas selimut piknik, dua kekasih berbincang dalam bahasa Italia. Tiba-tiba salah satu dari mereka menyerukan: "Saya lupa menutup la finestra!" (la finestra berarti jendela dalam bahasa Italia.)

Di sebuah taman bermain, tiga perempuan sedang berbagi makanan ringan dan berbincang dalam bahasa Arab.

Seorang anak laki-laki kecil berlari ke salah satu dari mereka, berteriak: "Abdullah kasar sama saya!" "Dengar..." kata ibunya dalam bahasa Inggris sebelum melanjutkannya dalam bahasa Arab.

Beralih tentu saja tidak sama dengan melupakan. Namun Schmid mengatakan seiring berjalannya waktu, bolak-balik informal ini dapat membuat otak Anda semakin sulit tetap berada dalam satu jalur bahasa ketika diperlukan: "Anda akan berada dalam sebuah percepatan perubahan bahasa."

Berkata lantang

Laura Dominguez, seorang pakar bahasa di University of Southampton, menemukan dampak serupa saat dia membandingkan dua kelompok migran jangka panjang: orang Spanyol di Inggris dan orang Kuba di AS.

Orang Spanyol tinggal di berbagai tempat di Inggris dan kebanyakan berbicara bahasa Inggris. Orang Kuba semuanya tinggal di Miami, sebuah kota dengan komunitas Amerika Latin yang besar, dan selalu berbicara dengan bahasa Spanyol.

"Jelas saja, semua orang yang berbahasa Spanyol di Inggris berkata, 'Oh, Saya lupa kata-katanya.' Ini yang biasanya mereka katakan ke Anda: 'Saya sulit mencari kata yang tepat, khususnya saat saya menggunakan kosa kata yang saya pelajari untuk pekerjaan saya'," kata Dominguez.

Sebagai seorang Spanyol yang bekerja kebanyakan di luar negeri, dia menyadari kesulitan itu dan mengatakan kepada saya: "Jika saya harus berbincang mengenai ini dengan seorang Spanyol dalam bahasa Spanyol, sepertinya saya tidak bisa."

Teorinya adalah semakin akrab bahasa atau dialek lain dengan kita, semakin mungkin itu mengubah bahasa ibu kita

Betapapun, ketika dia menganalisa penggunaan subjek bahasa yang diujinya lebih lanjut, dia menemukan perbedaan yang mencolok. Orang Spanyol yang tidak bergaul melestarikan dengan sempurna tata bahasa mereka. Namun orang Kuba - yang terus menerus menggunakan bahasa ibu mereka - telah kehilangan ciri khas asli tertentu.

Faktor kuncinya bukan pengaruh bahasa Inggris, namun jenis bahasa Spanyol lain yang ada di Miami. Dengan kata lain, orang Kuba mulai berbicara seperti orang Kolombia atau Meksiko.

Nyatanya, ketika Dominguez kembali ke Spanyol setelah tinggal di AS, dengan banyak teman-teman Meksiko di sana, teman-temannya di negara asalnya mengatakan dia sekarang lebih terdengar seperti orang Meksiko.

Teorinya adalah semakin akrab bahasa atau dialek lain dengan kita, semakin mungkin itu mengubah bahasa ibu kita.

Dia memandang kemampuan beradaptasi ini sebagai sesuatu yang perlu dirayakan - bukti daya temu kita sebagai manusia.

"Pengikisan bahasa bukanlah hal yang buruk. Itu hanyalah sebuah proses yang alami," katanya. "Orang-orang ini telah membuat berbagai perubahan ke tata bahasa mereka yang konsisten dengan realita mereka saat ini... Apapun yang membuat kita belajar bahasa memampukan kita untuk membuat perubahan ini."

Senang rasanya diingatkan oleh cara pandang seorang pakar bahasa, bahwa tidak ada yang namanya tak bisa berbahasa ibu. Dan pengikisan bahasa ibu juga dapat dibalik, setidaknya bagi orang dewasa: perjalanan kembali ke tanah asal biasanya membantu.

Tetap saja, bagi kebanyakan kita, bahasa ibu kita terikat dengan identitas kita yang lebih dalam, memori kita dan rasa diri kita. Itulah mengapa saya bertekad untuk mencari tahu arti pesan saudara laki-laki saya yang misterius mengenai 'fremdschämen' tanpa bantuan orang lain.

Saya lega karena saya mendapatinya dengan cukup cepat.

Fremdschämen berarti sensasi menonton seseorang melakukan sesuatu yang menyebabkan kecanggungan sehingga anda jadi malu sendiri. Ternyata itu sebuah kata yang popular dan telah ada bertahun-tahun lamanya. Kata itu melewati saya, seperti tren-tren lainnya yang tak terhingga di negara asal saya.

Setelah 20 tahun tinggal di luar negeri, saya seharusnya tidak khawatir dengan ini. Tetap saja, saya harus mengakui bahwa ada sedikit kesedihan saat saudara laki-laki saya menggunakan kata-kata yang tak lagi saya mengerti; rasa kehilangan mungkin, atau jarak yang tak diharapkan.

Mungkin ada sebuah kata Jerman untuk mendeskripsikan itu juga. Namun saya butuh lebih banyak waktu untuk mengingatnya.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di BBC Futuredengan judul Can you lose your native language?

Read More




Leave A Comment

More News

BBCIndonesia.com | Berita

Republika Online RSS Feed

NASIONAL

Waspada Online

ANTARA News - Nasional

News | Jakarta Globe

Indonesia News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.