Add to favourites
News Local and Global in your language
17th of August 2018

Indonesia



Ozil berpose dengan Erdogan dan foto atlet kontroversial lainnya

Berpose di depan kamera adalah kegiatan rutin bagi banyak atlet profesional. Namun, ada kalanya ketika kesempatan berfoto dengan atlet menuai kritik dan kontroversi.

Ambil contoh pesepakbola Mesut Ozil, yang memutuskan tak lagi membela tim nasional Jerman menyusul kecaman terhadapnya saat dia berfoto bersama Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Ozil, yang merupakan warga Jerman keturunan Turki, bertemu dengan Erdogan pada Mei lalu "untuk menghormati pejabat tertinggi negara keluarga saya".

Namun, sejumlah kalangan di Jerman, termasuk Federasi Sepakbola Jerman (DFB), justru mempertanyakan loyalitas Ozil terhadap nilai-nilai yang dijunjung Jerman.

Di sisi lain, pejabat Turki memuji sikap Ozil. Kemudian media yang berafiliasi dengan pemerintah Turki mengecam sikap Jerman yang dituding bersikap "rasis".

Kemunculan polemik akibat atlet berfoto bersama politisi sejatinya bukan hal baru.

Inilah contoh insiden lainnya

Mohamed Salah dan Ramzan Kadyrov

Sekilas tidak ada yang patut diperdebatkan ketika Mohamed Salah difoto saat sedang bersalaman dengan pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov.

Namun, foto ini menimbulkan tudingan bahwa Mesir dan pemain Liverpool itu dimanfaatkan untuk propaganda politik Kadyrov, yang diduga melakukan serangkaian pelanggaran hak asasi manusia.

Keduanya bertemu bulan lalu di ibu kota Chechnya, Grozny. Di kota itu, tim nasional Mesir menggelar sesi latihan selama perhelatan Piala Dunia 2018.

Sejumlah kelompok pegiat HAM mengritik FIFA karena melibatkan Kadyrov.

"Ramzan Kadyrov akan selalu menganggap Mo Salah sebagai kesempatan berfoto," sebut Allan Hogarth dari Amnesty International.

"Selama kekuasaan otoriter Kadyrov di Chechnya, ada begitu banyak laporan penghilangan, tahanan disiksa, dan eksekusi tanpa proses hukum," lanjutnya.

Awal tahun ini, Kadyrov membantah tuduhan itu saat diwawancarai BBC. Dia berkeras semua laporan mengenai eksekusi tanpa proses hukum dan penyiksaan "mengada-ada".

Dennis Rodman dan Kim Jong-un

Persahabatan mantan bintang bola basket NBA, Dennis Rodman, dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, menjadi bahan pembicaraan banyak kalangan.

Rodman pertama kali berkunjung ke Korut pada 2013, ketika Vice Media mengatur agar tim Harlem Globetrotters yang dibela Rodman mengadakan pertandingan eksibisi di negara itu.

Sejak saat itu, Rodman sudah beberapa kali bertandang ke Korut dan berkali-kali pula dia bertemu Kim Jong-un yang dikenal penggemar olahraga bola basket.

Namun, Rodman dikritik karena menolak mengangkat topik soal pelanggaran HAM Korut.

Negara itu dikenal kerap menggelar eksekusi di hadapan umum, mengirim sejumlah orang ke kamp kerja paksa yang brutal, serta memata-matai warganya menggunakan jaringan pengintai.

"Tidak ada yang pernah melihat (pelanggaran HAM), dan tidak ada yang melihatnya di TV. Itu semua kabar burung," papar Rodman dalam program televisi NBC's Today awal tahun ini.

Conor McGregor dan Vladimir Putin

Conor McGregor merupakan sosok yang sering dianggap sebagai petarung bela diri campuran paling terkenal di dunia.

Sedemikian terkenal namanya, bahkan Presiden Rusia Vladimir Putin mengundangnya ke laga final Piala Dunia 2018 sebagai tamu khusus.

McGregor mengunggah fotonya bersama Putin ke Instagram agar dapat disaksikan 24 juta pengikutnya. Bersama foto itu, dia menyertakan kalimat berisi ucapan terima kasih dan sanjungan kepada Putin.

"Pria ini adalah salah satu pemimin terhebat di zaman kita. Hari ini merupakan suatu kebanggaan bagi saya, Tuan Putin," sebut McGregor.

Akan tetapi, sanjungannya kepada Putin disambut dengan kritik dari sejumlah warganet.

"Petarung yang hebat, penilai karakter yang buruk," tulis seorang pengguna Twitter.

"Risetlah sejarah," timpal lainnya.

René Higuita dan Rodrigo Londoño (Timochenko)

Mantan penjaga gawang timnas Kolombia, René "El Loco" Higuita, tersohor karena melakukan "tendangan kalajengking" saat bertanding melawan Inggris di Wembley pada 1995.

Namun, Higuita masuk pusaran kontroversi pada 2016 setelah berfoto bersama pemimpin kelompok pemberontak FARC.

Lebih dari 260.000 orang tewas selama lebih dari 50 tahun akibat konflik bersenhara antara FARC, militer pemerintah, dan kelompok paramiliter sayap kanan.

Oleh karena itu, foto Higuita dengan pemimpin FARC, Rodrigo Londoño, menjadi perdebatan publik.

"Saya telah bertemu pemimpin-pemimpin militer, pemimpin paramiliter, dan pemimpin gerilya, dan semuanya orang Kolombia, dan saya mengenal hati mereka," kata Higuita saat itu.

Read More




Leave A Comment

More News

BBCIndonesia.com | Berita

Republika Online RSS Feed

NASIONAL

Waspada Online

ANTARA News - Nasional

News | Jakarta Globe

Indonesia News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.