Add to favourites
News Local and Global in your language
20th of September 2018

Indonesia



Mencicipi es krim ala komunis Kuba di eks kawasan elite Havana

Christopher P. Baker BBC Travel

'Taman rakyat' yang dikelola negara ini menawarkan kesenangan untuk masyarakat umum dengan harga murah dan mampu melayani sekitar 30.000 pelanggan setiap harinya.

Analies Gómez Coyula sedang menikmati mangkuk helado (es krim) nya yang ketiga. Begitu juga dengan pacarnya, Daniel, yang asyik menyendok es krim vanila yang ke-13.

Bibi Ana Lidia tampak puas, dengan dua ensaladas - lima sekop es krim dalam satu wadah - yang sudah licin tandas.

Dia membentangkan abanico dan mengipasi dirinya untuk melawan panasnya Havana di bulan Mei, kemudian memasukkan mangkuk ketiganya ke dalam wadah untuk dibawa pulang.

Saya merasa kurang setelah membandingkan ensalada mixta berupa campuran lima rasa, dengan saus karamel dan biskuit yang dihancurkan.

Kami sedang berada di Parque Coppelia, kedai es krim terbesar di dunia, dan merupakan suatu institusi ikonis di Kuba.

Menempati seluruh blok yang berada di seberang Hotel Habana Libre di wilayah yang dulunya daerah elite, distrik Vedado, 'taman rakyat' yang dikelola negara ini menawarkan kesenangan dengan harga murah kepada rakyat dan melayani sekitar 30.000 pelanggan setiap hari - dan lebih dari 600 pada satu waktu.

Ketika Havana gerah kepanasan, seluruh warga kota tampaknya berusaha mencari jalan keluar. Helado—yang disajikan oleh para pelayan yang mengenakan rok pendek kotak-kotak—rasanya juara.

Tetapi tidak ada pengalaman lain yang berbicara begitu manis tentang idealisme Kuba yang revolusioner.

Dibangun pada 1966, Parque Coppelia ditata menjadi empat taman terbuka. Di tengah-tengahnya terdapat paviliun dua tingkat berbentuk kubah yang mirip dengan piring terbang lengkap dengan kaki laba-labanya.

Tampaknya terinspirasi oleh Cathedral of Brasilia karya Oscar Niemeyer, paviliun itu dikenal sebagai la catedral de helado (katedral es krim) - suatu metafora yang sempurna di sebuah negara yang sangat menyukai susu beku.

Lupakan santería, agama Afro-Kuba. Orang-orang Kuba beribadah di heladeria (warung es krim)

Setiap seksi memiliki antrean yang sama panjangnya di bawah sengatan sinar matahari. Bahkan di hari-hari yang tidak terlalu panas, antreannya melingkar di taman seperti ular.

"Ini adalah sebuah tradisi," kata Ana Lidia yang berusia 56 tahun kepada saya. "Di sinilah saya pernah menghabiskan waktu bersama teman-teman saya ketika masih anak-anak"

"Di sinilah Anda membawa anggota keluarga untuk merayakan ulang tahun," tambah Coyula, menjelaskan bahwa hari ini adalah hari ulang tahun bibinya.

Daniel menatap saya, "Di sini adalah tempat yang sempurna untuk kencan pertama," katanya sambil menyendok es krimnya.

"Jika tidak berjalan dengan baik, ya! Pulang! Tetapi jika berjalan lancar, ketika selesai makan es krim, Anda dapat pergi ke bioskop Cine Yara di seberang jalan."

Novel-novel telah dituliskan di sini, not-not musik disusun di sini (penulis lagu berkebangsaan Kuba, Frank Delgado bahkan pernah menulis Coppelia sebagai penghormatan), dan barangkali bayi-bayi pernah dibuat di sini mengingat ini Kuba.

Bahkan Coppelia menjadi terkenal sebagai tempat plesir kaum gay, seperti yang digambarkan dalam film nominasi Oscar dari Kuba, Fresa y Chocolate (Stroberi dan Coklat).

"Saya suka stroberi," ujar Diego yang berpenampilan bohemia sambil mencoba merayu David yang bersikap lurus-lurus saja saat cara pembukaan.

"Mmmmm… ini satu-satunya terbaik yang dibuat di Kuba," tambahnya sebelum secara perlahan, dengan gaya sensual, menyuapkan es krim stroberi ke dalam mulutnya.

David, tentu saja, menikmati coklat. Dua jenis rasa yang sejak lama dianggap memiliki kode-kode yang terkait dengan orientasi seksual

"Apakah benar pria Kuba yang tidak gay tidak akan makan es krim stroberi?" saya pernah bertanya pada seorang teman semeja, untuk memecah keheningan sambil menyendokkan helado saya yang cepat meleleh.

Lourdes Mulen Duarte, seorang perempuan paruh baya yang tampak kaku dengan kulit berwarna terong tertawa sambil melihat sekeliling. "Saya tidak melihat orang yang makan fresa."

"Itu karena mereka hari ini hanya menyajikan vanila," jawab saya.

Dia tersenyum, gigi putihnya berkilau, kemudian kembali menikmati es krimnya dalam diam

Orang-orang Kuba paling mudah diajak bercengkerama dan selalu aktif berbicara. Tetapi segala percakapan akan berhenti begitu mereka duduk dengan es krim di tangan.

Menyesap helado seperti penghormatan komunal. Percakapan di meja bersama tidak lebih berupa gumaman, seolah-olah Coppelia benar-benar sebuah katedral.

Selama saya tinggal di Havana baru-baru ini, Coppelia menjadi bagian dari kehidupan harian saya.

Saya adalah orang yang selalu mengikuti rutinitas yang sama, selalu memilih bagian di luar ruangan ketika matahari berangsur turun, melewati pohon-pohon palem, dan jagüeyes (pohon-pohon banyan).

Suatu hari, demi merasakan perubahan, saya bergabung dalam antrian di pojok L dan jalan 23 untuk ke paviliun berbentuk pesawat antariksa.

Seluruh keluarga, lajang, anak hingga nenek-kakek, anak-anak muda yang masih berseragam saling menggoda dan bermesraan secara terbuka.

Kekayaan Kuba yang beragam sedang antre dengan harapan mendapatkan es krim sebanyak mungkin agar masuk ke dalam perut dan tas tangan mereka.

"¿El último?" saya bertanya dengan gaya Kuba, untuk memastikan apakah saya orang terakhir dalam antrean.

Menunggu lebih dari satu jam (lebih panjang pada akhir pekan yang panas), beberapa habaneros (penduduk Havana) berkeliaran mencari lokasi yang teduh, sementara lainnya menghilang dari pandangan.

Akhirnya seorang pengatur antrean memandu kami masuk, dan barisan itu menyatu dengan sempurna.

Kami menuruni jalan sempit yang mengarah ke paviliun. Lantai bawah - terbuka di semua sisi - menampilkan meja marmer berbentuk melingkar dengan kursi-kursi tinggi, bergaya restoran.

Menjulang di tengah, tangga spiral melingkar seperti cangkang nautilus ke induk di atasnya.

Saya muncul di bawah kubah, terpukau oleh keindahan arsitekturalnya, dinaungi semanggi berdaun empat, ruangan-ruangan dipisahkan oleh panel-panel kaca berwarna dan terbuka ke arah taman-taman di bawahnya.

Hari ini sungguh nyaman. Tujuh rasa es krim dituliskan di papan di depan pintu masuk, Tetapi saat ini sudah sangat siang, hanya tinggal tiga rasa lagi yang tersedia, termasuk mantecado yang kaya rasa, terbuat dari kuning telur.

Khawatir dengan kolesterol saya yang meningkat, saya memesan dua sekop jimagua (kembar) vanila.

"Anda tidak ingin ensalada?" tanya pelayan kepada saya, tampak terkejut, dengan asumsi saya telah membuat kesalahan.

Tidak ada seorang pun di sekitar saya yang tidak memesan setidaknya dua dari lima sekop pilihan es krim, yang disajikan di mangkuk plastik berbentuk oval.

Menurut legenda, setelah Revolusi 1959, Fidel Castro - seorang penggemar es krim yang luar biasa - memerintahkan pembangunan Coppelia untuk mengungguli kaum 'yanquis' (Yankees) dengan sesuatu yang lebih bagus dan lebih besar ketimbang es krim Howard Johnson yang terkenal memiliki 28 rasa.

Nyatanya, ketika diresmikan pada 4 Juni 1966, Coppelia hanya menyajikan 26 rasa - dari kenari sampai pisang, dari vanila sampai walnut - sebagai penghormatan pada Revolusi 26 Juni 1953, dengan sebuah serangan ke barak Moncada.

Sebelum Revolusi, Vedado adalah distrik kelas menengah atas yang mewah, dan Kuba terdiri dari masyarakat yang kebanyakan berasal dari tingkat strata bawah dan sangat miskin, kebanyakan berkulit hitam, yang jarang merasakan es krim.

Sutradara film Tomas Gutiérrez Alea, yang pernah jadi teman saya di tahun 1996, memilih Coppelia sebagai setting Fresa y Chocolate karena Fidel dan orang kepercayaannya Celia Sánchez membangun Coppelia (yang oleh Sánchez dinamai dengan nama balet favoritnya) sebagai cara untuk mengubah tempat minum bir murahan menjadi Arcadia urban di mana semua orang, miskin, kayak, hitam, putih, gay dan lurus - sama-sama dapat menikmati es krim yang disubsidi.

"Oooof! Ketika masih kecil, kami datang ke sini setiap waktu. Ini adalah tempat di mana anak-anak berkumpul untuk bersosialisasi," kenang teman antri saya yang berusia 46 tahun, Vivian Hernández, sambil menggoyang-goyangkan dan mengetuk-ketukkan jari-jarinya mengikuti suara musik yang dibawakan oleh dua orang musisi Kuba, duo Buena Fé.

"Es krimnya jauh lebih enak saat itu. Sangat lembut. Rasa stroberi mengandung buah stroberi asli di dalamnya.

"Kami memiliki sueros - es krim kocok! Dan banana splits," seru sepupunya yang sebaya, Daneis. "Kamu mendapat tabacitos di sundae," tambahnya, mengingatkan pada tabung biskuit kecil yang dijadikan tempat rokok.

"Dulu ada vaca negra, vaca blanco," tambah Jorge Coalla Potts berusia 72 tahun, yang dengan sedih mengulang menu bernama sapi hitam dan sapi putih alias sundae vanila dengan Coca Cola atau limun.

Sebuah 'tentara coklat' adalah sundae tinggi dengan es krim coklat, turquino special adalah cake yang berdiri antara beberapa sekop es krim.

Lalu tiba masa Periode Khusus (Special Period) - saat ketika kelangkaan yang mengerikan disebabkan karena runtuhnya Blok Soviet.

Kuba kehilangan pasokan mentega dan susu bubuk utamanya. Karena tidak dapat memproduksi susu yang cukup, pemerintah Kuba harus memilih antara mentega dan es krim.

Iklim yang panas. Kecanduan gula. Tidak membutuhkan terlalu banyak usaha. Ransum dikurangi. Tetapi Coppelia tetap melayani satu peso (tiga sen) sekop es krim, meski dikurangi hingga hanya satu atau dua rasa - itu adalah suatu kenikmatan yang bahkan kesulitan ekonomi atau embargo Amerika Serikat yang kaku tidak dapat menghentikannya.

Di sebuah wilayah di mana gaji bulanan rata-rata sekitar 750 peso Kuba (Rp380.000) dan masih banyak orang yang tergantung pada pembagian makanan, oasis yang populis ini menjanjikan bahwa orang-orang Kuba dapat bersenang-senang dengan cemilan manis yang mereka inginkan ini dengan harga yang murah.

"Hanya satu?" tanya Hernández. Seperti Danies dan Potts, dia minta dua ensalada, satu pisang dan satu vanila.

Anda bisa membaca artikel aslinya Cuba's communist ice cream cathedral dan artikel lainnya dalam BBC Travel.

Read More




Leave A Comment

More News

BBCIndonesia.com | Berita

Republika Online RSS Feed

NASIONAL

Waspada Online

ANTARA News - Nasional

News | Jakarta Globe

Indonesia News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.