Add to favourites
News Local and Global in your language
15th of October 2018

Ekonomi



Pajak 1.147 Barang Impor Dinaikkan

JAKARTA, (PR).- Pemerintah menaikkan tarif pajak penghasilan (pph) 1.147 jenis barang impor. Kebijakan ini berlaku mulai tujuh hari dari hari ini sejak Peraturan Menteri Keuangan ditandatangani.

Kebijakan tarif tersebut bervariasi mulai naik 30 persen sampai empat kali lipat. Adapun rincian dari penyesuaian tarif PPH pasal 22 tersebut yaitu sebanyaj 719 item mengalami kenaikan tarif PPH da‎ri 2,5 persen menjadi 7,5 persen. Termasuk diantara kategori ini adalah seluruh barang yang digunakan untuk proses konsumsi dan keperluan lainnya seperti bahan bangunan, ban, peralatan elektronik audio visual, dan produk tekstil.

Sebanyak 218 item komoditas mengalami kenaikan PPH 22 dari 2,5 persen‎ menjadi 10 persen. Termausk dalam kategori ini adalah seluruh barang konsumsi yangs ebagian besar dapat diproduksi di dalam negeri seperti barang elektronik, sabun, shampo, kosmetik, serta peralatan masak.

Sementara PPh 57 jenis barang impor tetap dikenakan tarif ‎2,5 persen. Lima puluh tujuh barang tersebut merupakan bahan baku industri yang ada di sektor hulu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, Peraturan Menteri Keuangan ini telah ditandatangani Rabu 5 September 2018. Kebijakan ini‎ akan berlaku tujuh hari setelah PMK ditandatangani.

Dia mengatakan, kebijakan ini diperlukan untuk mengendalikan pertumbuhan impor yang tumbuh lebih cepat dari ekspor. Hal itu menyebabkan defisit neraca perdagangan Indonesia menjadi semakin lebar.

Berdasarkan data yang dimiliki Kementrian Keuangan, pertumbuhan barang konsumsi mengalami pertumbuhan 16,46 persen sejak Januari-Agustus 2018. Sementara bahan baku dan penolong serta barang modal masing-masing mengalami pertumbuhan 12,82 persen dan 13,55 persen. "Di sisi lain pertumbuhan impor bahan baku dan barang modal merupakan tanda bahwa industri manufaktur kita berjalan. Namun bisa kita lihat bahwa pertumbuhan impor konsumsi snagat tinggi,"ujar dia sata konferensi pers di Jakartat, Rabu (5/9/2018).

Sri mengakui bahwa kebijakan ini akan memiliki dampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun hal ini perlu dilakukan di tengah ketidakpastian global dan tekanan Rupiah yang tejadi saat ini. Berdasarkan kajian Kementrian Keuangan, setiap kenaikan bea masuk sebesar 2-4 persen, akan menurunkan impor hingga satu persen. "Jadi kebijakan ini ada pengaruhnya sekitar dua persen penurunan impor,"ujar dia.

Impor Mobil Mewah Distop

Kementrian Keuangan juga menyiapkan instrumen tambahan untuk mengendalikan impor mobil mewah. Kebijakan tersebut diantaranya dengan menerapkan pajak penambahan nilai sebesar 50 persen dan pajak barang mewah sebesar 10-125 persen. "Jadi jika impor mobil mewah, bisa 190 persen dari harga aslinya,"ujar dia.

Sementara itu Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, pihaknya juga memutuskan untuk menghentikan impor mobil di atas 3.000 cc. Dimana mobil tersebut tergolong barang mewah yang tidak menyangkut kebutuhan oran banyak. 

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan kebijakan ini tidak akan dipermasalahkan oleh organisasi perdagangan dunia (WTO). Sebab pemerintah menerapkan kebijakan melalui instrumen pajak penghasilan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa kebijakan ini bukan merupakan satu-satunya jalan pemerintah dalam memperbaiki defisit transaksi berjalan dan pelemahan Rupiah. "Untuk sektor migas, kami juga telah menerapkan B20 sehingga bisa mengurangi impor solar,"ujar dia.***

Read More




Leave A Comment

More News

Kontan Online

Bisnis.com

EKONOMI

ANTARA News - Ekonomi

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.