Add to favourites
News Local and Global in your language
18th of July 2018

Internasional



Menakar Kekuatan Muharrem Ince Penantang Erdogan di Pilpres Turki

ISTANBUL, (PR).- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sudah berkuasa hampir dua decade. Pada pemilihan presiden yang digelar pada 24 Juni 2018, dia masih ingin mempertahankan jabatannya.

Namun demikian, berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Kali ini Recep Tayyip Erdoğan menghadapi saingan cukup berat.

Meskipun Erdogan sebelumnya sudah melakukan sejumlah pembungkaman terhadap sejumlah tokoh oposisi dan jurnalis. Ini tak akan membuat kaum oposisi hancur sepenuhnya. Justru, hanya dalam dua bulan sebelum pemilu, muncul sosok penantang terkuat Erdogan, yakni  Muharrem İnce.  Dia adalah capres dari partai oposisi yang kemungkinan bisa mengalahkan Erdogan.

Tak heran, munculnya sosok guru fisika Muharrem İnce telah membuat banyak warga Turki berharap capres dari partai  oposissi terbesar di Turki itu bisa menang. Ince dicalonkan Partai Rakyat Republik (CHP) sebagai capres mereka.

Dilansir laman The Guardian, dalam tampilan yang luar biasa dari popularitasnya yang meningkat, kandidat oposisi Muharrem İnce menarik setidaknya satu juta orang ke sebuah pawai di distrik Maltepe kota. Di sana dia menyerukan para pemilih untuk mengakhiri 16 tahun pemerintahan Erdoğan dan partai petahana, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP).

"Kami akan merangkul semua orang," kata Ince kepada para pendukungnya yang larut dalam suasana meriah menyanyikan lagu kebangsaan dan melambai-lambaikan bendera Turki merah-putih. “Harapan Turki akan dihidupkan kembali. Ini akan menjadi Turki yang bersatu," ujar Ince.

Masyarakat merasa terkekang

Untuk diketahui, selama era Erdogan, rakyat Turki menjadi terpolarisasi. Selain itu, gerakan kanan meningkat signifikan selama era Erdogan yang membuat banyak kalangan nasionalis dan sekuler khawatir nilai-nilai pluralis dan sekuler Turki. Yang selama ini diamanatkan oleh Bapak Pendiri Turki Mustafa Kemal Ataturk untuk dilestarikan, terancam pudar.

Meski mayoritas penduduk Turki adalah muslim, kehidupan warga di sana sejak jaman Mustafa Kemal Ataturk yang juga dianggap sebagai Bapak Pendiri Turki itu, sangat moderat dan sekular. Kelompok militer selama ini menjadi institusi penjaga kelestarian nilai-nilai sekuler di Turki.

Mustafa Kemal sendiri adalah seorang yang sangat liberal dan filosofinya itu menjadi landasan pembentukan Turki sehingga negara yang wilayahnya setengah berada di Asia dan sisanya di Eropa itu, selama ini sangat liberal. Namun, sejak Partai AKP menang pada pemilu 16 tahun lalu, warga merasa kebebasan mulai dikekang.

Meski sebenarnya Erdogan tak pernah menerapkan hukum syariah karena ini bertentangan dengan konstitusi dasar Turki. Erdogan, bahkan, menegaskan, Turki akan tetap menjadi negara moderat kendati partai Islam AKP  menjadi petahana. Dia juga menegaskan, negara tak mengurusi masalah agama sehingga peryataannya ini membuat kehidupan warga Turki di era Erdogan tetap liberal kendati di bawah pimpinan partai Islam.  

Terkait lawan kuat Erdogan, Ince dikenal sebagai kandidat partai oposisi sekuler CHP. Dalam sejarah pemilu Turki dua dekade terakhir, Ince muncul sebagai penantang paling karismatik bagi Erdoğan, yang dapat membuat pemilu kemungkinan harus digelar dua putaran.

Ince adalah guru fisika yang ramah dan kader senior Partai CHP dari kota Yalova. Sikapnya yang rendah hati dan pro nilai-nilai yang diwariskan Mustafa Kemal Ataturk itu membuat banyak warga Turki berharap Ince bisa memenangi pemilu.

Masih dilansir The Guardian, Ince telah berjanji untuk menggulingkan kekuasaan presiden lewat pemilu, memulihkan supremasi hukum di Turki dan mengakhiri pemenjaraan para pembangkang dan jurnalis yang sering dilakukann Erdogan selama berkuasa 16 tahun.

Erdogan tak semudah itu bisa dikalahkan

Namun untuk mengalahkan Erdogan, seperti dilansir The Guardian, bukan hal yang mudah bagi Ince. Pasalnya, sebagai petahana, Erdogan punya modal banyak. Erdogan yang kini berusia 64 tahun  telah memerintah negara itu sejak 2002. Dia merupakan politisi pertama yang pernah menjabat sebagai perdana menteri dan kemudian sebagai presiden. Saat kampanye Sabtu lalu di distrik Esenyurt di Istanbul, Erdogan mengatakan kepada puluhan ribu pendukung, Turki akan melanjutkan "untuk mencapai apa yang orang lain tidak dapat bayangkan", jika mereka memilihnya sekali lagi.

Erdoğan menyerukan pemilihan umum pada bulan April, satu setengah tahun lebih cepat dari jadwal, meskipun ada penolakan berulang kali oleh partainya bahwa rencana semacam itu seharusnya tak dieksekusi. Dia mengatakan ketidakstabilan regional membuat pemilihan awal menjadi keharusan. Namun kritikus mengatakan Erdogan berharap untuk mendahului kemerosotan ekonomi yang terlihat dari jatuhnya nilai lira Turki terhadap dolar AS dan defisit perdagangan asing yang terus meningkat.

Sebenarnya popularitas AKP juga sudah menurun belakangan ini. Terlihat dari hasil pileg bebarapa waktu lalu, AKP tak bisa menang mutlak. Partai Islam ini untuk mengalahkan partai oposisi CHP  harus membentuk aliansi dengan partai nasionalis, PLTMH, dipimpin oleh Devlet Bahçeli.

Partai oposisi terbesar di Turki CHP pada pileg lalu didukung partai nasionalis, Partai Iyi yang dipimpin oleh Meral Akşener, dan kelompok Saadet. Sementara partai HDP pro-Kurdi memilih untuk tak berkoalisi dengan petahana maupun oposisi. Namun di pemilu 24 Juni ini, HDP telah mengisyaratkan akan mendukung partai sekuler CHP yang mencalokan Ince sebagai lawan utama Erdogan.

Partai kehilangan pendukung

Masih dilansir The Guardian, dari hasil kampanye selama ini, ada kemungkinan bahwa partai AK dari Erdoğan dapat kehilangan mayoritas di parlemen, bahkan jika presiden masih favorit untuk menang.

Jajak pendapat publik terkenal selama ini tidak dapat diandalkan di Turki. Meskipun demikian, rata-rata hasil sigi setempat tampak memperlihatkan bahwa pemilu akan berlangsung dua putaran. Perlombaan yang lebih ketat diprediksi antara Erdogan dan İnce di putaran kedua pada 8 Juli.

Erdoğan menghadapi sejumlah lawan, tetapi İnce terbukti paling mengancam. Popularitas Ince pun baru meningkat belakangan ini. Dalam satu setengah bulan dia sukses menggelar 107 kampanye di 65 kota. Kampanyenya itu selaku didatangi banyak warga yang ingin rezim Turki segera diganti.

Ince selama kampanye berjanji untuk mengakhiri keadaan darurat di Turki yang diterapkan Erdogan sejak upaya kudeta 2016. Ince juga berjanji untuk melanjutkan perang "tanpa belas kasihan" melawan kelompok-kelompok teroris, dan untuk "menyatukan Turki".

İnce selama ini berhasil membuat kalangan sekular Turki bersimpati kepadanya. Saah satu yang dilakukan Ince adalah mengunjungi pemimpin HDP yang dipenjara oleh Erdogan, yakni Selahattin Demirtaş. Ince menuntut Demirtas segera dibebaskan. Selain itu, Ince juga berhasil meraih simpati dari kelompok Kurdi yang selama ini kerap didiskriminasi oleh pemerintahan Erdogan. Ince menegaskan dirinya mendukung debat parlemen untuk menyelesaikan masalah Kurdi.

Kendati mendukung nilai-nilai sekuler, Ince juga berhasil meraih simpati kaum agamis dengan rutin melakukan salat Jumat. Ince mengatakan, kendati sangat mendukung nilai-nilai sekuler, ini tak menghalanginyya untuk beragama. "Jilbab atau tak berjilbab, pria atau wanita, partisan atau bukan, kami tidak akan mendiskriminasikan siapapun. Anda yang berjilbab bisa menggunakan itu kemanapun anda pergi," ujar Ince​.​​***

Read More




Leave A Comment

More News

Kontan Online

LUAR NEGERI

International | Jakarta

China Post Online -

WorldPost - The Huffington

Reuters: World News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.