Add to favourites
News Local and Global in your language
18th of July 2018

Internasional



Dua Wanita Tersangka Pembunuh Kim Jong-nam Diyakini Telah Dilatih

KUALA LUMPUR, (PR).- Dua wanita yang dituduh membunuh Kim Jong-nam, saudara tiri dari pemimpin Korea Utara diyakini telah dilatih untuk melakukan "pembunuhan" dengan menggunakan agen saraf VX yang mematikan. Hal itu diungkapkan jaksa Malaysia,jaksa Wan Shaharuddin Wan Ladin, menyimpulkan kasus pembunuhan kakak tiri Kim Jong-un pada Februari 2017 lalu.

Siti Aisyah dan Doan Thi Huong, seorang warga Vietnam, dituduh memiliki tujuan bersama dengan empat orang buronan Korea Utara untuk membunuh Kim Jong Nam di Bandara Internasional Kuala Lumpur pada Februari 2017.

Seperti dilaporkkan Yahoo News, wajah Kim diolesi VX, agen saraf terlarang yang dikembangkan sebagai senjata kimia.

"Anda pasti telah dilatih untuk itu. Sehingga saat itu dieksekusi, korban langsung tewas. Anda mahir mengoleskan zat mematikan itu karena memang sebelumnya telah dilatih," kata jaksa Wan Shaharuddin Wan Ladin, menyamakan "pembunuhan" dengan sesuatu yang terlihat "dalam film James Bond".

Kedua wanita, keduanya berusia 20-an, adalah satu-satunya tersangka dalam tahanan dan menghadapi hukuman mati jika terbukti bersalah. Mereka mengaku tidak bersalah, mengatakan mereka percaya mereka bertindak dalam reality show dan tidak tahu mereka menangani sesuatu yang mematikan.

Wan Shaharuddin mengatakan para pembunuh harus mengetahui rute terbaik untuk VX memasuki tubuh korban, dan tahu bahwa mereka harus mencuci VX dari diri mereka sendiri dalam waktu 15 menit untuk menghindari terkontaminasi.

Rekaman keamanan bandara yang disaring di pengadilan menunjukkan kedua wanita itu menuju ke kamar kecil tidak lama setelah serangan terhadap Kim.

"Jika itu adalah lelucon, mengapa Anda mengoleskan tidak hanya di wajahnya atau di kelopak mata, tetapi juga di mata itu sendiri?" Kata Wan Shaharuddin, menambahkan bahwa ada "unsur agresivitas" yang terlibat.

Jaksa membuat argumen penutupan mereka berdasarkan 34 kesaksian dari para saksi. Seiring dengan akan ditutupnya kasus pembunuhan itu, hakim Azmi Ariffin menetapkan sidang akhir pada 16 Agustus 2018 untuk memutuskan apakah akan membebaskan kedua perempuan atau meminta mereka untuk melakukan pembelaan diri.

Motif politik

Pengacara pembela mengatakan pembunuhan itu bermotif politik, dengan banyak tersangka utama terkait dengan kedutaan Korea Utara di Kuala Lumpur, menunjukkan bahwa perempuan itu hanyalah pion.

Masih dilansir Yahoo News, Kamis, Pyongyang membantah tuduhan oleh pejabat Korea Selatan dan Amerika Serikat bahwa rezim pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berada di balik pembunuhan itu.

Kim semasa hidupnya telah mengkritik pemerintahan dinasti keluarganya di Korea Utara dan saudara tirinya (Kim Jong-un) telah mengeluarkan perintah untuk eksekusi.

Pengacara untuk kedua wanita itu mengatakan jaksa telah keliru dalam menuntut para wanita dengan empat pria yang terlihat melarikan diri dari Malaysia pada hari pembunuhan tersebut. Pengacara kedua wanita tersebut meyakini tak ada niat dari kedua kliennya untuk melarikan diri. Hal ini bisa dilihat dari kesaksian beberapa tersangka Korea Utara lainnya yang disebut selama persidangan.

“Bagaimana bisa ada niat bersama antara terdakwa dan empat, ketika banyak yang lain melarikan diri? Ada tersangka lain yang masih buron,” kata Gooi Soon Seng, pengacara Siti Aisyah.

Dia menggambarkan bukti penuntutan terhadap kliennya sebagai "sangat minim dan tidak terkait" karena hanya mengandalkan rekaman pihak keamanan bandara dan sisa produk sampingan VX yang ditemukan pada kaos tanpa lengan abu-abu yang terlihat dikenakannya.

Tidak ada rekaman yang jelas menunjukkan Siti Aisyah mengotori wajah Kim. Rekaman itu hanya menampilkan gambar buram dari seseorang yang diadili oleh jaksa sebagai Siti Aisyah yang bergegas menjauh dari tempat kejadian.

DNA Siti Aisyah tidak ditemukan pada baju yang ditemukan oleh polisi, sedangkan produk samping VX yang terdeteksi biasanya ditemukan di zat lain selain racun, kata Gooi.

Pengacara Huong, Naran Singh mengatakan, ketika kliennya terlihat berjalan cepat ke kamar mandi setelah pembunuhan, dia tampaknya tidak tahu bahwa tangannya ditutupi racun.

"Jika seseorang tahu zat di tangan mereka bisa membunuh dan bahwa mereka perlu mencucinya dengan cepat, mereka akan lari untuk menyelamatkan hidup mereka, bukan berjalan dengan tenang sebagaimana terlihat di rekaman CCTV," ujar SIngh dikutip Yahoo News.

Seperti diketahui, kasus dugaan pembunuhan Kim Jong-nam telah mempengaruhi hubungan Malaysia dan Korea Utara. Pemerintah Malaysia mengatakan "merasa dihina" oleh komentar Duta Besar Korut, Kang Chol, yang menuding Kuala Lumpur berkolusi dengan "pihak-pihak bermusuhan" dan "punya sesuatu yang disembunyikan".

Komentar itu dilontarkan setelah Malaysia menolak menyerahkan jenazah Kim Jong-nam ke Korut tanpa autopsi.***

Read More




Leave A Comment

More News

Kontan Online

LUAR NEGERI

International | Jakarta

China Post Online -

WorldPost - The Huffington

Reuters: World News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.