Add to favourites
News Local and Global in your language
14th of December 2018

Internasional



Pengungsi Rohingya Dipulangkan Paksa, UNICEF Prihatin dan Khawatirkan Anak-Anak

UNICEF yang merupakan Dana Anak-Anak PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) menyampaikan keprihatinan mereka terkait adanya laporan terkait pemulangan paksa muslim Rohingya dari Bangladesh ke Myanmar.

“Minggu ini kami telah melihat laporan yang tersebar luas bahwa pengungsi Rohingya di Bangladesh mungkin secara paksa dipulangkan ke Myanmar, UNICEF memandang bahwa dengan perhatian sepenuhnya, dengan perhatian khusus pada bagaimana langkah tersebut akan mempengaruhi keadaan anak-anak,” ujar Juru Bicara UNICEF, Christophe Boulierac, Jum’at 16 November 2018.

Christophe Boulierac mengatakan rekannya yang berada di kamp Unchiprang di Cox's Bazar -salahsatu kamp yang ditargetkan untuk repatriasi- menyaksikan protes besar yang dilakukan oleh pengungsi Rohingya untuk menentang rencana pemulangan tersebut.

“Pihak pengelola kamp memperkuat pesan bahwa ketika mereka siap untuk memulangkan pengungsi secara sukarela, tidak ada pengungsi Rohingya yang akan dipaksa untuk kembali ke Myanmar jika mereka tidak ingin melakukannya,” kata Boulierac seperti dilansir UNICEF.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa setiap repatriasi (pemulangan) haruslah bersifat sukarela dan tidak memaksakan. Terlebih lagi keselamatan bagi para pengungsi Rohingya belum terjamin, selain itu ada kekhawatiran jika para pengungsi Rohingya dipulangkan justru akan mendapatkan ancaman penyiksaan kembali.

“Setiap repatriasi harus bersifat sukarela, berkelanjutan, dilakukan dengan aman dan bermartabat. Kami akan mengambil pengecualian besar terhadap setiap langkah untuk memulangkan anak-anak yang tidak sesuai dengan kriteria ini. Anak-anak tidak boleh dipisahkan dari orang tua atau wali mereka. Anak-anak tidak boleh terpapar pada tingkat stres atau ketidaknyamanan apa pun selama repatriasi, tidak boleh ada anak yang sakit saat dipulangkan,” tuturnya.

Dia juga turut menyerukan kepada masyarakat Internasional untuk tetap memberikan dukungan serta perhatian terhadap kasus pengungsi Rohingya, terlebih lagi banyak anak-anak yang menjadi korban akibat kejadian hal tersebut.

“UNICEF menyerukan kepada masyarakat internasional untuk terus bekerja dengan pemerintah dan masyarakat sipil Bangladesh dan Myanmar dalam mendukung anak-anak dan keluarga Rohingya, menuju solusi jangka panjang untuk krisis ini, berdasarkan pada penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia semua orang Rohingya," ujarnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Ontario International Development Agency (OIDA). Sejak Sejak 25 agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah tewas akibat serangan yang dilakukan oleh militer Myanmar.

Dalam laporan OIDA, yang berjudul "Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience", polisi dan prajurit militer Myanmar telah memperkosa sebanyak 18.000 perempuan dan anak perempuan pengungsi Rohingya. Selain itu lebih dari 115.000 rumah pengungsi Rohingya dibakar serta 113.000 rumah dirusak.***

Read More




Leave A Comment

More News

Kontan Online

LUAR NEGERI

China Post Online -

WorldPost - The Huffington

World – The Daily Caller

Reuters: World News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.