Add to favourites
News Local and Global in your language
25th of September 2017

Internasional



Myanmar Diduga Pasang Ranjau Darat Cegah Pengungsi Rohingya

DHAKA, (PR).- Myanmar telah menanam ranjau darat di wialayahnya yag berbatasan dengan Bangladesh selama tiga hari terakhir. Laporan itu disampaikan sumber pemerintah Bangladesh di Dhaka.

Hal itu diduga bertujuan untuk mencegah kembalinya warga Muslim Rohingya yang melarikan diri dari aksi kekerasan di Myanmar. Demikian pendapat narasumber yang mengetahui langsung masalah tersebut seperti dilaporkan Reuters.

Kedua sumber yang menolak publikasi identitasnya itu menyatakan pemerintah Bangladesh pada Rabu 6 September 2017 secara resmi mengajukan protes dan menentang peletakan ranjau darat yang begitu dekat dengan perbatasan kedua negara.

Tindakan keras tentara yang dipicu serangan pada 25 Agustus 2017 oleh gerilyawan Rohingya terhadap pasukan keamanan Myanmar telah menyebabkan pembunuhan sedikitnya 400 orang. Hampir 125.000 warga Rohingya juga mengungsi ke Bangladesh yang menjadikannya krisis kemanusiaan besar.

Myanmar menempatkan ranjau darat di wilayah mereka di sepanjang pagar kawat berduri di antara serangkaian pilar perbatasan. Bangladesh mengetahui keberadaan ranjau darat itu terutama melalui bukti foto dan informan.

"Pasukan kami juga telah melihat tiga sampai empat kelompok yang bekerja di dekat pagar kawat berduri, memasukkan sesuatu ke dalam tanah. Kami kemudian mengonfirmasi kepada informan kami bahwa mereka menanam ranjau darat," kata sumber tersebut.

Dia tidak menjelaskan apakah kelompok tersebut berseragam, namun yakin mereka bukan gerilyawan Rohingya.

Manzurul Hassan Khan, petugas penjaga perbatasan Bangladesh, dua ledakan terdengar pada Selasa 5 September 2017 di sisi perbatasan Myanmar setelah dua ledakan juga terjadi sehari sebelumnya yang memicu spekulasi bahwa pasukan Myanmar telah menanam ranjau darat.

Pada Selasa, seorang anak laki-laki kehilangan kaki kirinya akibat ledakan di dekat persimpangan perbatasan sebelum akhirnya ia dibawa ke Bangladesh untuk perawatan, sementara anak laki-laki lain menderita luka ringan, kata Khan.

Khan menyatakan, ledakan tersebut kemungkinan terjadi akibat ledakan ranjau. Seorang pengungsi Rohingya yang pergi ke tempat ledakan pada Senin 4 September 2017 merekam apa yang tampak seperti ranjau darat: yaitu cakram logam berdiameter sekitar 10 sentimeter yang sebagiannya terkubur di lumpur. Pengungsi tersebut yakin ada dua perangkat lain yang terkubur di tanah.

Dua pengungsi lainnya juga mengatakan mereka melihat anggota tentara Myanmar di lokasi tersebut dalam waktu dekat sebelum ledakan Senin yang terjadi sekitar pukul 14.25 waktu setempat.

Myanmar tutup mulut

Reuters tidak mampu segera melakukan verifikasi bahwa perangkat yang ditanam adalah ranjau darat dan penanamannya berkaitan dengan tentara Myanmar.

Tentara Myanmar belum berkomentar mengenai ledakan di dekat perbatasan. Zaw Htay, juru bicara pemimpin nasional Myanmar Aung San Suu Kyi, tidak segera memberikan komentar.

Ia mengatakan bahwa klarifikasi dari Reuters diperlukan untuk menentukan di mana bom meledak, siapa yang bisa pergi ke sana, dan siapa yang menanam ranjau darat itu? Siapa yang bisa memastikan bahwa ranjau tersebut tidak diletakan oleh teroris?

Sekretaris kementerian dalam negeri Bangladesh, Mostafa Kamal Uddin, tidak menanggapi panggilan telefon untuk dimintai komentar.

Pilar perbatasan yang disebutkan sebelumnya menjadi patok perbatasan kedua negara, tempat Myanmar memiliki sebagian pagar kawat berduri. Sebagian besar perbatasan sepanjang 217 km itu tidak dijaga.

Myanmar, yang berada di bawah kekuasaan militer sampai saat ini dan merupakan salah satu negara yang paling banyak ditanami ranjau di dunia, adalah satu dari sedikit negara yang belum menandatangani Perjanjian Pelarangan Ranjau tahun 1997.***

Read More




Leave A Comment

More News

Kontan Online

LUAR NEGERI

International | Jakarta

ANTARA News - Internasional

China Post Online -

World – The Daily Caller

Reuters: World News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.