Add to favourites
News Local and Global in your language
19th of August 2018

Internasional



Tokoh Demokrat Tuding Donald Trump Pengecut karena Cabut Pernyataan

WASHINGTON, (PR).- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kini mengamini kesimpulan badan-badan intelijen AS bahwa Rusia mengintervensi pemilihan presiden pada 2016 lalu. Walau sehari ­sebelumnya dia membela Presiden ­Rusia Vladimir Putin. 

Hal itu dilakukan setelah Trump sebelumnya melontarkan pujian terhadap Rusia, dan menyebabkan ba­nyak warga AS, termasuk para politisi, mengecam sang presiden. Bah­kan, Trump disebut sebagai peng­khia­nat negara.

Seperti dilaporkan BBC, Rabu, Trump berkilah bahwa dia salah omong pada Senin 16 Juli 2018 lalu. Kata dia, sebenarnya berniat berkata bahwa tiada alasan mengapa bukan Rusia yang campur tangan pada Pilpres 2016.

Trump kemudian menambahkan bahwa dirinya ”punya keyakinan pe­nuh dan mendukung” badan-badan intelijen AS. Padahal awal pekan ini dia meragukan hasil penyelidikan badan intelijen AS yang menyimpul­kan Rusia mengintervensi Pemilu AS.

Fakta sebenarnya

Kontroversi mengemuka setelah Trump bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Helsinki, Finlandia. Berikut ucapan Trump sebagai­ma­na dikutip Gedung Putih dalam jum­pa pers seusai pertemuan tersebut:

Wartawan: Presiden Putin membantah keterlibatan dalam campur tangan pemilihan pada 2016. Segenap badan intelijen AS berkesimpulan bahwa Rusia telah melakukannya. Pertanyaan pertama saya kepada Anda, siapa yang Anda percayai?

Trump: Orang-orang saya datang ke saya. Mereka berkata bahwa me­nurut mereka itu adalah Rusia. Saya bertemu Presiden Putin, dia berkata itu bukan Rusia. Yang saya katakan adalah: Saya tidak melihat alasan apa pun mengapa itu demikian.

Namun, yang Trump katakan kini adalah:

Trump mengaku telah meninjau transkrip ucapannya dan menyadari dia perlu mengklarifikasi. ”Kalimatnya seharusnya: 'Saya tidak melihat alasan mengapa saya tidak' atau 'mengapa itu bukan Rusia', semacam kalimat negatif ganda,” ujarnya seperti dikutip BBC.

”Saya menerima kesimpulan komunitas intelijen bahwa campur ta­ngan Rusia pada pemilihan 2016 telah berlangsung. Bisa jadi orang lain. Ada begitu banyak orang di luar sana,” ujarnya.

Trump berkata, campur tangan itu tidak punya dampak terhadap pemi­lihan yang dia menangi setelah me­ngalahkan Hillary Clinton.

Bagaimanapun, Trump tidak me­respons ketika wartawan bertanya apakah dia akan mengecam Putin.

Dua kubu

Partai Republik dan Demokrat tercengang ketika Trump mengeluarkan pernyataan yang memihak Rusia dan mengabaikan intelijen negaranya sendiri. Bahkan, salah seorang pendu­kung Trump di kubu Republik, Newt Gingrich menilai komentar Trump adalah ”kesalahan paling serius dalam masa kepresidenannya”.

Setelah Trump berbalik berpihak pada badan intelijen AS, pemimpin Senat AS dari kubu Demokrat, Chuck Schumer menuding sang presiden merupakan pengecut.

”Ini menunjukkan bahwa Presiden Putin 'masih terus mengambil keuntungan dari Donald Trump' karena Presiden Trump tak punya keberani­an, kekuatan, bahkan keyakinan untuk mengatakan hal yang barusan dia sebutkan beberapa menit lalu itu langsung di depan wajah Putin,” ujar Senator Chuck lewat akun Twitternya.

Seperti diketahui, awal pekan ini, seperti dilaporkan laman The Guar­dian, Donald Trump sempat dicap sebagai ”pengkhianat” karena lebih berpihak pada Rusia ketimbang lembaga-lembaga pada pemerintahannya sendiri. Warga Amerika dilaporkan sangat terkejut dengan sikap pe­mim­pin mereka yang membela Putin dan menyalahkan pemerintahan AS sebelumnya sebagai biang kerok rusak­nya hubungan AS dan Rusia.

Bahkan, kendati hasil penyelidikan CIA menunjukkan adanya intervensi Rusia dalam pilpres AS, Trump justru meragukannya dan menegaskan bahwa Putin sama sekali tak melakukan intervensi dalam pemilu AS 2016 lalu. Sikap Trump itu aneh dan sangat bertolak belakang dengan sikap para pemimpin AS sebelumnya yang selalu menganggap Rusia adalah rival dan musuh AS, bukan sekutu.

Namun, Trump lewat pertemuannya dengan Putin di Helsinki, justru menilai Rusia adalah sekutu AS. Tak heran, publik AS meradang. Hal itulah yang diduga membuat Trump, Rabu, meralat pernyataannya yang kontroversial soal Rusia tersebut.***

Read More




Leave A Comment

More News

Kontan Online

LUAR NEGERI

International | Jakarta

China Post Online -

WorldPost - The Huffington

Reuters: World News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.