Add to favourites
News Local and Global in your language
14th of December 2018

Ekonomi



Trump-Xi Jinping

Bisnis.com, JAKARTA – Hampir sebagian besar tahun ini, pemerintah Amerika Serikat (AS) dan China belum mampu membuat kemajuan signifikan dalam menyelesaikan masalah eskalasi perang perdagangan. Bagaimana ke depannya?

Pada Sabtu malam (1/12/2018) waktu setempat di ibu kota Argentina, Buenos Aires, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk memasuki masa 'gencatan senjata' atas perang perdagangan antara kedua negara.

Trump setuju untuk menunda kenaikan tarif yang direncanakan terhadap barang-barang China selama tiga bulan sebagai imbalan atas pembelian yang lebih besar untuk barang-barang asal AS.

Juru Bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders menyampaikan bahwa perundingan tersebut diharapkan dapat rampung dalam 90 hari ke depan.

Jika tidak terdapat kemajuan, dia menambahkan, pemerintah AS akan tetap dengan rencana semula yaitu menaikkan tarif menjadi 25%.

Penentuan ini seakan memberi ruang bernapas kepada kedua pemimpin saat mereka menghadapi kemerosotan dalam pasar saham dan tanda-tanda perlambatan ekonomi.

Tetap saja, meskipun pengenduran tensi perdagangan disambut baik untuk investor ekuitas, kesenjangan mendasar antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia ini masih luas.

Negosiasi telah lama terhenti atas tuntutan AS untuk reformasi struktural yang mendalam seperti menghentikan transfer teknologi paksa, menegakkan hak kekayaan intelektual, dan mengakhiri subsidi negara untuk industri strategis.

Semua itu dipandang China sebagai strategi pemerintah AS untuk menggagalkan kebangkitannya sebagai kekuatan global.

“Saya tidak yakin jika ini berarti sesuatu yang substantif,” kata Michael Every, kepala riset pasar finansial Asia di Rabobank, perihal gencatan senjata antara kedua negara. “Tidak ada pihak yang sepenuhnya siap untuk perang, tetapi tidak ada pihak yang mau mengalah.”

Kendati demikian, perjanjian itu dapat membantu meringankan kekhawatiran bahwa ketegangan perdagangan akan semakin memicu ketegangan geopolitik, prospek yang telah membangkitkan kekhawatiran akan Perang Dingin yang baru.

Pihak Gedung Putih menekankan bahwa Xi Jinping setuju untuk terus mendorong Korea Utara menjadi bebas nuklir, sedangkan pemerintah China mengatakan Trump akan menghormati kebijakan China mengenai hubungan dengan Taiwan.

Ini juga menunjukkan bahwa kedua belah pihak bisa menjadi pragmatis. Xi Jinping memiliki waktu setidaknya tiga bulan sebelum tarif pada barang-barang China senilai US$200 miliar naik menjadi 25%, sehingga memungkinkan para pembuat kebijakan China untuk mengatasi dampak perang dagang saat pertumbuhan melambat.

Trump, sementara itu, membuat China untuk membeli lebih banyak barang-barang pertanian, energi dan industri asal AS sementara tetap mempertahankan manfaat kenaikan tarif untuk menekan Xi Jinping membuat konsesi yang lebih besar terkait isu-isu struktural.

Trump juga mengatakan bahwa Xi Jinping terbuka untuk menyetujui akuisisi NXP Semiconductor NV oleh Qualcomm Inc. yang bernilai US$44 miliar.

“Para presiden ingin pasar menikmati penguatan terlebih dahulu. Dan ketika Februari tiba, kita bisa mulai khawatir lagi,” kata Junheng Li, pendiri JL Warren Capital LLC, seperti dilansir dari Bloomberg.

Read More




Leave A Comment

More News

Kontan Online

Bisnis.com

EKONOMI

ANTARA News - Ekonomi

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.