Add to favourites
News Local and Global in your language
15th of December 2018

Internasional



KTT G20 diwarnai kekhawatiran

KONTAN.CO.ID - BUENOS AIRES. Pertemuan negara-negara anggota G20 akan berupaya memanfaatkan pertemuan di Buenos Aires untuk mencapai kesepakatan tentang isu-isu besar termasuk soal perdagangan, migrasi dan perubahan iklim. Meski tantangan untuk bisa mewujudkan kesepakatan tersebut dinilai bukan hal yang mudah.

Kepada Reuters, seorang sumber dari pemerintah Jerman mengakui saat ini bukanlah waktu yang mudah untuk multilateralisme. Ketegangan seperti perang dagang dinilai sulit untuk bisa dijinakan pada saat ini.

Pertemuan G20 di tahun ini diharapkan menjadi salah satu konferensi paling penting karena para pemimpin negara untuk pertama kalinya akan bertemu sejak tahun 2008 guna merencanakan cara mengatasi krisis ekonomi. 

Pasar keuangan dan komoditas akan sangat memperhatikan hasil dari konferensi tersebut. Terutama pertemuan yang akan dilakukan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada hari Sabtu nanti.

Sekretaris Jenderal Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi alias OECD Angel Gurria bilang, perlambatan ekonomi global diperkirakan akan memburuk jika Trump makin menekan China dengan rencana untuk lebih meningkatkan tarif impor sampai 25% pada beberapa barang senilai US$ 200 miliar.

Gurria mengatakan dampak dari tarif perdagangan AS sebesar 10% pada barang-barang dari China setara dengan hilangnya 0,2% dari produk domestik bruto global pada tahun 2020. "Jika Anda menaikan tarif hingga 25% dan yang lain ikut membalas, dampaknya bagi perlambatan PDB global bisa naik hingga hampir 1%," katanya.

Sebagai tuan rumah G20 tahun ini, Argentina telah menekankan pentingnya KTT sebagai forum pembangunan konsensus. Sulitnya untuk mencapai kesepakatan terhadap isu-isu utama menjadi salah satu tantangan dalam KTT tahun ini. Seorang delegasi Asia mengatakan kepada Reuters bahwa progres dari sejumlah diskusi tertutup bergerak sangat lambat sehingga para delegasi harus tetap berada di ruang pertemuan hingga tengah malam agar bisa mencapai hasil yang sebaik mungkin.

Namun di sisi lain pasar keuangan dinilai kurang peduli tentang kemampuan para pemimpin G20 untuk mendorong upaya mempersatukan fraksi yang ada. Pasar dinilai lebih cemas tentang hasil dari pertemuan-pertemuan bilateral sejumlah negara besar utama. Bahkan Wall Street sempat turun tipis pada Kamis waktu setempat di tengah kegelisahan atas pertemuan Trump dengan Xi.

Pada Kamis kemarin Trump mengatakan pihaknya terbuka untuk kesepakatan perdagangan dengan China, meski ia tak yakin akan hal tersebut. "Saya pikir kami sangat dekat untuk melakukan sesuatu dengan China, tetapi saya tidak tahu apakah saya ingin melakukannya," kata Trump.

Sumber Reuters menyebut Peter Navarro, penasihat perdagangan Trump yang punya pandangan keras terhadap China akan ikut menghadiri pertemuan antara Trump dan Xi.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan China menyatakan, China berharap bisa mencapai hasil positif dalam menyelesaikan sengketa perdagangan dengan Amerika Serikat.

Amerika Serikat telah memungut bea tambahan antara 10%-25% pada sejumlah barang impor dari China senilai US$ 250 miliar pada tahun ini. Hal ini sebagai buntut atas apa yang disebut Trump sebagai praktik perdagangan China yang tidak adil. Di tahun depan, pemerintah negeri paman sam berencana untuk kembali mengerk tarif tersebut.

Selain dengan China, pertemuan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pun sempat menjadi perbincangan. Namun secara tiba-tiba Trump membatalkan rencana pertemuan tersebut pada Kamis kemarin sebagai dampak dari aksi militer Rusia atas kapal Ukraina.

Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan Trump membuat keputusan untuk tidak bertemu Putin setelah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, kepala staf Gedung Putih John Kelly dan penasehat keamanan nasional John Bolton. Sementara sumber diplomatik Rusia mengatakan bahwa Trump dan Putin masih harus bertemu untuk membahas perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF). Pemerintahan Trump telah menuduh Rusia tidak mematuhi perjanjian rudal yang telah berusia 31 tahun itu dan memperingatkan bahwa pihaknya akan menarik diri dari kesepakatan tersebut.

Namun Kremlin membantah telah melanggar perjanjian itu. “Kami masih harus membahas INF. Kami masih membutuhkan pertemuan skala penuh, ”kata sumber itu kepada Reuters.

KTT G20 tahun ini juga bergulat terkait kehadiran Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Penguasa de facto Arab Saudi itu tiba di Buenos Aires pada hari Rabu di bawah awan kontroversi atas pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul pada bulan Oktober. 

Presiden Argentina Mauricio Macri mengatakan tuduhan terhadap pangeran itu mungkin akan dibahas selama KTT G20.

Reporter: Tendi Mahadi Editor: Herlina Kartika Reporter: Tendi Mahadi Editor: Herlina Kartika Video Pilihan Read More




Leave A Comment

More News

Kontan Online

LUAR NEGERI

China Post Online -

WorldPost - The Huffington

World – The Daily Caller

Reuters: World News

Disclaimer and Notice:WorldProNews.com is not the owner of these news or any information published on this site.